BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Agama Republik Indonesia membuka peluang bagi pondok pesantren dengan jumlah santri lebih dari 1.000 orang untuk mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara mandiri dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan tersebut disiapkan untuk mempercepat distribusi layanan gizi bagi santri di lingkungan pendidikan keagamaan.
Wakil Menteri Agama, H R Muhammad Syafii, mengatakan pesantren yang memenuhi syarat dapat langsung membangun dapur mandiri setelah mengajukan permohonan kepada Badan Gizi Nasional. "Tadi kita sudah sepakat bahwa untuk percepatan penerimaan MBG di pondok pesantren maka pesantren yang jumlah santrinya seribu ke atas itu bisa langsung membangun SPPG sendiri," ujar Romo Syafii usai rapat koordinasi percepatan Program MBG bersama BGN dan Kantor Staf Presiden di Jakarta, Senin (17/5/2026).
Menurutnya, skema dapur mandiri tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan Program MBG di pesantren sekaligus mempercepat pemenuhan kebutuhan gizi santri dan peserta didik di lembaga pendidikan keagamaan.
Romo Syafii menjelaskan pola pelaksanaan MBG di pesantren tidak harus sepenuhnya mengikuti prototipe umum yang telah ditetapkan BGN. Pengelolaan dapur maupun sistem penyajian makanan dapat disesuaikan dengan tradisi dan karakteristik masing-masing pesantren selama tetap memenuhi standar kebersihan dan higienitas.
"Jadi tidak mesti persis seperti prototipe yang ditetapkan oleh BGN. Kemudian juga tentang alat makannya, memang ada pondok pesantren yang sudah pakai omprengan kami minta itu untuk diteruskan, tapi yang belum menggunakan omprengan karena memang tradisinya prasmanan itu juga masih dimungkinkan," katanya.
Selain pengelolaan dapur, jadwal pemberian makanan dalam Program MBG juga disebut fleksibel mengikuti kebiasaan santri yang menjalankan puasa sunnah Senin dan Kamis. Makanan yang dimasak pada siang hari tetap dapat diberikan saat waktu berbuka puasa.
"Begitu juga dengan jadwal pemberian MBG itu kan biasanya diberikan siang, tapi di pesantren itu kan ada tradisi puasa Senin Kamis, itu juga bisa dimasak siang hari untuk dimakan pada saat berbuka, jadi sangat adaptif sekarang," pungkasnya.
Editor: Gokli
