BATAMTODAY.COM, Jakarta - Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengajak seluruh umat beragama untuk memperlakukan alam dan lingkungan dengan penuh kasih sayang. Menurutnya, manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam, bukan merusaknya.
Ajakan tersebut disampaikan Nasaruddin saat menjadi narasumber dalam kegiatan Mudzakarah Istiqlal yang digelar di Jakarta, Sabtu (15/3/2026).
Dalam pemaparannya, Nasaruddin mengingatkan bahwa sejak awal penciptaan manusia, telah ada peringatan mengenai potensi kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh manusia terhadap bumi. "Ingatlah ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan kepada para malaikat bahwa akan diciptakan makhluk baru di bumi bernama manusia. Para malaikat bertanya, mengapa manusia dijadikan khalifah, padahal berpotensi menimbulkan kerusakan alam dan pertumpahan darah," ujar Nasaruddin.
Menurut dia, sejumlah fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa sebagian kekhawatiran tersebut memang terjadi, seperti kerusakan hutan, perataan gunung, hingga konflik yang menimbulkan korban jiwa. "Lihat apa yang terjadi sekarang. Banyak hutan dibakar, gunung diratakan, pantai ditimbun, serta berbagai konflik yang menimbulkan pertumpahan darah. Kita juga melihat apa yang terjadi di Palestina maupun Iran," katanya.
Meski demikian, Nasaruddin menjelaskan manusia tetap dipilih menjadi khalifah di bumi karena memiliki inisiatif dan keberanian yang tidak dimiliki makhluk lain. Namun, keistimewaan tersebut harus disertai dengan tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan alam.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyakiti makhluk hidup atau merusak lingkungan tanpa alasan. "Jangan suka mematahkan ranting pohon tanpa alasan. Jangan menembak burung hanya karena memiliki senapan baru. Jangan menyakiti makhluk hidup yang ada di sekitar kita," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga mencontohkan teladan Nabi Muhammad dalam memperlakukan hewan dan lingkungan. Ia menuturkan kisah ketika Nabi menolong seekor kijang agar dapat kembali menyusui anaknya sebelum kembali kepada orang yang menangkapnya.
Menurut Nasaruddin, kisah tersebut menjadi contoh akhlak yang perlu diteladani umat beragama dalam memperlakukan makhluk hidup dan lingkungan. "Mari bersahabat dengan alam semesta, bersahabat dengan lingkungan hidup, dengan air, tumbuhan, binatang, burung, dan tentu saja dengan sesama manusia. Jangan menyakiti mereka dan jangan merusak alam," katanya.
Ia menambahkan bahwa hubungan harmonis antara manusia dan alam akan memberikan dampak positif bagi kehidupan. "Jika kita mencintai alam semesta, alam juga akan mencintai kita. Sebaliknya, jika kita merusaknya, maka alam pun dapat memberikan dampak buruk bagi kehidupan manusia," ujar Nasaruddin.
Editor: Gokli
