logo batamtoday
Jum'at, 30 Januari 2026
PKP BATAM


Menperin Ungkap Ada 1.236 Perusahaan Baru Serap 218.892 Tenaga Kerja Awal Januari 2026
Senin, 19-01-2026 | 08:48 WIB | Penulis: Redaksi
 
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (Foto: Istimewa)  

BATAMTODAY.COM Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat hingga 15/1/2026 sebanyak 1.236 perusahaan industri mulai melakukan produksi perdana sepanjang 2026. Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut menyerap tenaga kerja sebanyak 218.892 orang.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, mulai beroperasinya ribuan perusahaan industri tersebut menunjukkan ketahanan sektor manufaktur nasional di tengah dinamika perekonomian global yang masih dibayangi ketidakpastian.

Menurut dia, sektor industri manufaktur tetap memiliki fondasi yang kuat dan berperan penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas sebesar 5,51%, menegaskan posisi strategis sektor manufaktur sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

"Industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5% dan menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Kami optimistis kinerja tersebut dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan sepanjang 2026," ujar Agus dikutip Minggu (18/1/2026).

Ia menjelaskan, sebanyak 1.236 perusahaan industri tersebut merupakan entitas yang telah melaporkan tahap pembangunan pada 2025 dan direncanakan beroperasi penuh pada 2026.

Perusahaan-perusahaan ini didukung investasi industri pengolahan nonmigas senilai Rp 551,88 triliun, termasuk investasi di luar tanah dan bangunan sebesar Rp 444,25 triliun.

"Kapasitas produksi baru yang mulai beroperasi pada 2026 menjadi faktor penting untuk menjaga pasokan industri, memperkuat struktur manufaktur, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru," katanya.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan industri, Kemenperin terus mendorong percepatan industrialisasi, transformasi industri 4.0, serta penguatan keterkaitan industri dari hulu hingga hilir.

Upaya tersebut dilakukan guna memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku dan meningkatkan efisiensi rantai produksi nasional.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan industri manufaktur nasional pada 2026 masih akan didorong oleh pasar domestik sekitar 80%, sementara kontribusi pasar ekspor mencapai sekitar 20%.

Penguatan pasar domestik dilakukan melalui kebijakan substitusi impor, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), optimalisasi belanja pemerintah dan badan usaha milik negara (BUMN) untuk produk dalam negeri, serta penguatan industri kecil menengah (IKM) agar terintegrasi dalam rantai pasok nasional.

"Kami memastikan produk industri dalam negeri menjadi tuan rumah di pasar domestik. Penguatan pasar dalam negeri menjadi jangkar utama pertumbuhan industri manufaktur," ujar Agus.

Lebih lanjut, sejumlah subsektor diproyeksikan mengalami peningkatan permintaan signifikan, di antaranya industri logam dasar yang didorong proyek infrastruktur dan program hilirisasi, industri makanan dan minuman sebagai kontributor terbesar PDB manufaktur, serta industri kimia, farmasi, dan obat yang ditopang meningkatnya kebutuhan produk kesehatan dan bahan kimia industri.

kontribusi ekspor produk industri pengolahan nonmigas mencapai 74,85% dari total ekspor nasional pada 2026, sejalan dengan rencana strategis 2025–2029.

Target tersebut ditempuh melalui diversifikasi pasar ekspor, peningkatan daya saing produk, serta penguatan kerja sama dan promosi industri nasional di pasar global.

Dalam aspek ketenagakerjaan, sektor industri pengolahan nonmigas ditargetkan menyerap 14,68% dari total tenaga kerja nasional pada 2026, dengan produktivitas tenaga kerja sebesar Rp 126,2 juta per orang per tahun.

Untuk mendukung pencapaian target tersebut, investasi industri pengolahan nonmigas pada 2026 ditargetkan mencapai Rp 852,9 triliun.

Editor: Surya

Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© 2026 BATAMTODAY.COM All Right Reserved
powered by: 2digit