BATAMTODAY.COM, Batam - Satreskrim Polresta Barelang terus mendalami penyebab ledakan kapal MT Federal II di kawasan PT ASL Shipyard Indonesia, Tanjunguncang, Batam, Kepulauan Riau, yang menelan 31 korban jiwa dan luka-luka. Hingga Jumat (17/10/2025), penyidik telah memeriksa sembilan saksi dari berbagai pihak terkait.
Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Debby Tri Andrestian, mengatakan kesembilan saksi tersebut berasal dari manajemen PT ASL Shipyard, bagian Health, Safety, and Environment (HSE), supervisor lapangan, serta pekerja subkontraktor yang terlibat dalam proyek perbaikan kapal tersebut.
"Sampai saat ini sembilan orang saksi telah diperiksa. Mereka berasal dari bagian HSE, supervisor, dan subkontraktor," ujar Debby melalui pesan singkat, Jumat (17/10/2025).
Dalam proses penyelidikan, tim penyidik juga telah mengamankan sejumlah dokumen proyek perbaikan kapal serta melibatkan Tim Laboratorium Forensik Polda Riau untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Namun, hingga saat ini olah TKP belum dapat dilakukan secara langsung karena kondisi di dalam kapal masih berbahaya. Udara panas dan kandungan gas di ruang palka dinilai belum sepenuhnya aman bagi tim penyelidik.
"Tim telah tiba kemarin sore, tetapi olah TKP belum bisa dilakukan sampai kondisi kapal benar-benar aman. Kami mohon waktu untuk bisa memastikan penyebab pastinya," jelas Debby.
Debby menegaskan, kapal tanker MT Federal II yang meledak kali ini merupakan kapal yang sama dengan insiden kebakaran beberapa bulan lalu, meski lokasi kebakarannya berbeda. "Kapalnya sama, tetapi titik kejadiannya berbeda. Dari keterangan saksi, diduga ada aktivitas perbaikan di dalam palka sebelum ledakan terjadi," tambahnya.
Ledakan hebat di kapal MT Federal II terjadi pada Rabu (15/10/2025) dan menyebabkan 31 orang menjadi korban, dengan 11 di antaranya meninggal dunia. Salah satu korban luka bakar berat, Roni Andreas Harefa (36), dilaporkan meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit pada sore harinya.
Kapolsek Batu Aji, AKP Raden Bimo Dwi Lambang, membenarkan bahwa jumlah korban bertambah dari sebelumnya yang dilaporkan 28 orang. "Total korban menjadi 31 orang setelah pemeriksaan ulang yang dilakukan tim kepolisian," ujarnya.
Sementara itu, korban yang mengalami luka bakar berat dan ringan masih dirawat di beberapa rumah sakit di Batam, antara lain RS Mutiara Aini, RSUD Embung Fatimah, RS Graha Hermin, dan RS Elisabeth.
Editor: Gokli
