BATAMTODAY.COM, Batam - Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, menyatakan optimismenya bahwa Batam mampu melampaui target pertumbuhan ekonomi nasional, bahkan menembus angka dua digit hingga 10 persen. Hal itu ia sampaikan dalam acara Batam Investment Forum yang digelar di Gedung Bida Utama BP Batam, Kamis (17/7/2025).
"Jika target nasional dalam RPJMN sebesar 8 persen, maka Batam harus menyiapkan diri mencapai 9,5 hingga 10 persen. Pertumbuhan dua digit bukan hal yang mustahil," ujar Amsakar dalam pidatonya di forum tersebut.
Amsakar menilai, posisi strategis Batam sebagai kawasan industri, perdagangan, pariwisata, alih kapal, dan turistik menjadi fondasi kuat untuk mempercepat laju ekonomi. Sejak dirintis pada 1971, Batam didesain untuk menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional dan kawasan, sejalan dengan konsep konektivitas segitiga ekonomi Singapura-Johor-Riau.
"Saat ini Batam memiliki 31 kawasan industri, 135 galangan kapal, dan 4 kawasan ekonomi khusus (KEK). Proyek strategis seperti Nongsa Digital Park dan Batam Aero Technic jadi modal penting untuk percepatan ekonomi," ungkapnya.
Dalam empat tahun terakhir, Batam mencatat pertumbuhan ekonomi yang konsisten melebihi rata-rata nasional:
- Tahun 2021: 4,75 persen
- Tahun 2022: 6,84 persen
- Tahun 2023: 7,04 persen
- Tahun 2024: 6,69 persen
"Ini sekitar 1,5 hingga 2 persen lebih tinggi dari rata-rata nasional," jelas Amsakar.
Ia menambahkan bahwa untuk mempertahankan tren positif ini, diperlukan terobosan kebijakan dan perbaikan layanan publik, terutama dalam hal perizinan. Menurutnya, pemerintah pusat telah merespons kebutuhan tersebut dengan menerbitkan dua regulasi strategis:
- PP Nomor 25 Tahun 2025 tentang pendelegasian kewenangan perizinan dari kementerian/lembaga kepada BP Batam.
- PP Nomor 28 Tahun 2025 terkait kemudahan layanan perizinan berbasis risiko.
"Pak Presiden memberikan hadiah istimewa bagi Batam. Dua PP ini menjadi landasan memangkas birokrasi dan mempercepat pelayanan investasi," ujar Amsakar.
"Kami terus kebut implementasi aturan ini, semua bekerja lembur menyiapkan regulasi turunannya."
Namun demikian, implementasi kedua regulasi tersebut masih dalam tahap harmonisasi. Dari 16 sektor layanan dasar, baru tiga sektor yang telah memiliki Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) secara lengkap.
"Sebagian besar NSPK masih dalam proses. Kami ingin pelaku usaha tidak mengalami hambatan saat mengurus izin," tambahnya.
Amsakar juga menyoroti tantangan eksternal, seperti peluncuran kawasan ekonomi khusus di Johor dan Singapura awal tahun ini, serta dampak kebijakan tarif dari Amerika Serikat. Namun ia tetap optimis Batam mampu bersaing di tingkat regional maupun global.
"Kalau memungkinkan, kita dorong terbentuknya jembatan fisik dan ekonomi Batam-Singapura-Johor sebagai infrastruktur konektivitas kawasan," pungkas Amsakar.
"Forum ini harus jadi titik awal mimpi besar yang bisa kita wujudkan bersama," tandasnya.
Editor: Gokli
