logo batamtoday
Jum'at, 01 Mei 2026
PKP BATAM


Janda Empat Anak di Kampung Jago Bintan, Bertahan Hidup dengan Penghasilan Tak Sampai Rp 1 Juta
Selasa, 15-07-2025 | 15:48 WIB | Penulis: Harjo
 
Septi Lestari (40) --janda empat anak di Kampung Jago, Desa Lancang Kuning, Kecamatan Bintan Utara-- duduk termenung sambil mengusap air mata yang nyaris tumpah, saat ditemui BATAMTODAY.COM, Senin (14/7/2025). (Foto: Harjo)  

BATAMTODAY.COM, Bintan - Angin sore berembus lembut di Kampung Jago, Desa Lancang Kuning, Kecamatan Bintan Utara. Di sebuah rumah kayu yang sebagian jendelanya sudah hilang, Septi Lestari (40) duduk termenung sambil mengusap air mata yang nyaris tumpah. Hidupnya tak lagi sama sejak satu tahun lalu, saat sang suami pergi untuk selamanya, meninggalkan dirinya bersama empat anak yang masih belia.

"Sejak suami meninggal, hidup kami makin sulit. Jangankan untuk biaya sekolah anak-anak, untuk makan sehari-hari saja kami sering kekurangan," tutur Septi dengan suara lirih, Senin (14/7/2025).

Septi tinggal bersama anak-anaknya di rumah kayu yang nyaris roboh. Anak sulungnya, Hasti Saputri, baru berusia 16 tahun. Disusul Fikri Ramadan (13), Setiawan Fahriansyah (8), dan si bungsu Faizen Satriawan yang masih berumur 3 tahun. Kondisi ekonomi yang serba kekurangan memaksa Hasti mengubur cita-citanya.

"Tahun ini Hasti seharusnya melanjutkan sekolah ke SMA. Tapi dia memilih berhenti supaya bisa bekerja membantu ekonomi keluarga," ujar Septi.

Sementara Fikri kini duduk di kelas 1 SMP, dan Setiawan baru kelas 3 SD. Septi berharap kedua anaknya itu masih bisa terus bersekolah, meski hidup mereka penuh keterbatasan. "Orangtua angkat saya dulu memang memberikan sedikit lahan untuk tempat kami mendirikan rumah. Tapi jangankan memperbaiki rumah, untuk makan saja kami sudah kesulitan," kata Septi sambil menatap rumah reot yang ditempatinya.

Hidup Septi kini sepenuhnya bergantung pada hasil kebun kelapa di lahan sempit sekitar rumah. Namun, penghasilan itu sangat kecil. "Dalam sebulan, paling banyak cuma dapat Rp 300 ribu. Selebihnya kami berharap pada Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau kadang tetangga yang minta bantuan mencuci atau kerja lainnya," jelasnya.

Jika diakumulasi, penghasilan Septi tak pernah genap Rp 1 juta setiap bulan. Keinginannya untuk bekerja di luar rumah pun terhalang, karena harus mengasuh anak bungsunya yang masih terlalu kecil untuk ditinggal.

"Kadang saya menunggu anak-anak pulang sekolah supaya ada yang bisa jaga adiknya, kalau saya mau bantu-bantu kerjaan orang lain," tutur Septi, suaranya bergetar menahan tangis.

Meski dihimpit kesulitan, Septi menolak menyerah. Ia hanya memiliki satu harapan besar: melihat keempat anaknya tumbuh sehat dan mengenyam pendidikan, agar kelak nasib mereka lebih baik.

"Saya cuma ingin anak-anak bisa besar, sekolah, dan hidup lebih baik dari saya. Supaya suatu saat, kami bisa keluar dari kesulitan ini bersama-sama," ucap Septi dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

Di Kampung Jago yang sederhana, kisah Septi Lestari menjadi potret nyata perjuangan seorang ibu yang bertahan demi anak-anaknya, meski dengan penghasilan yang tak sampai Rp1 juta sebulan.

Editor: Gokli

Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© 2026 BATAMTODAY.COM All Right Reserved
powered by: 2digit