logo batamtoday
Senin, 20 April 2026
PKP BATAM


Freeport Indonesia Pasok Bahan Baku ke STANIA, Dorong Hilirisasi Industri Solder Nasional
Kamis, 10-07-2025 | 15:08 WIB | Penulis: Aldy Daeng
 
Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas. (Foto: Aldy Daeng/Batamtoday)  

BATAMTODAY.COM, Batam - Upaya Indonesia memperkuat industri hilirisasi nasional kian nyata, setelah PT Freeport Indonesia resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA), anak usaha Arsari Tambang, untuk memasok bahan baku perak dan timbal.

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan bertepatan dengan peresmian pabrik solder ramah lingkungan pertama di Indonesia milik STANIA, di kawasan industri Tunas Prima, Batam, Kamis (10/7/2025).

Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menjelaskan pihaknya akan memasok 10 ton perak dan 250 ton timbal setiap tahun ke STANIA, dua komponen penting dalam pembuatan produk solder.

"Selama ini belum tentu perak dan timbal yang kami hasilkan terserap industri dalam negeri. Kini, dengan hadirnya STANIA, kita memiliki peluang besar untuk memperkuat hilirisasi di dalam negeri. Ini harus kita dorong bersama," kata Tony.

Ia menambahkan, volume pasokan bahan baku ke depan akan disesuaikan dengan pertumbuhan kapasitas produksi STANIA. Harga pasokan pun mengikuti harga pasar global, yang saat ini berkisar USD 30 per pon.

STANIA sendiri berdiri di lahan seluas 6.500 meter persegi, dengan kapasitas awal produksi 2.000 ton solder batangan per tahun. Pabrik ini dirancang untuk dikembangkan hingga 16.000 ton per tahun, meliputi produk solder wire, powder, dan paste, dengan target pendapatan sebesar Rp 1 triliun setiap tahun.

PT Freeport Indonesia resmi menandatangani MoU dengan PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA), anak usaha Arsari Tambang, untuk memasok bahan baku perak dan timbal, Kamis (10/7/2025). (Foto: Aldy)

Hashim S Djojohadikusumo, Komisaris Utama Arsari Tambang, menilai kerja sama ini menjadi tonggak penting bagi kemandirian industri nasional, khususnya hilirisasi berbasis timah di Kepulauan Riau. "Meski pabrik ini secara skala masih kecil dibanding proyek lain yang pernah saya kerjakan, tetapi STANIA menjadi langkah strategis untuk membuktikan bahwa Indonesia mampu bersaing secara global, menciptakan nilai tambah, dan menghasilkan produk ekspor yang kompetitif," ujar Hashim.

Ia juga menegaskan bahwa STANIA siap memperluas kapasitas hingga delapan jalur produksi apabila permintaan terus meningkat. Hashim mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi membangun industri nasional tanpa terjebak sekat-sekat politik.

Seluruh proses produksi di pabrik STANIA ditenagai energi baru terbarukan (EBT) dari PLN yang telah tersertifikasi Renewable Energy Certificate (REC), menjadikannya fasilitas industri bebas emisi. Bangunan pabrik juga dirancang efisien, dengan memaksimalkan cahaya alami untuk mengurangi konsumsi energi.

Melalui kerja sama strategis ini, Indonesia melangkah lebih jauh dalam peta industri hilirisasi global, tidak hanya sebagai penyedia bahan mentah, tetapi juga sebagai produsen produk bernilai tambah tinggi dan berkelanjutan.

Editor: Gokli

Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© 2026 BATAMTODAY.COM All Right Reserved
powered by: 2digit