logo batamtoday
Sabtu, 02 Mei 2026
PKP BATAM


Hashim Resmikan Pabrik Solder Ramah Lingkungan Pertama di Indonesia, Langkah Maju Hilirisasi Timah
Kamis, 10-07-2025 | 14:08 WIB | Penulis: Aldy Daeng
 
Komisaris Utama Arsari Tambang, Hashim S Djojohadikusumo, saat meresmikan pabrik solder ramah lingkungan pertama di Tanah Air, pada Kamis (10/7/2025). Pabrik berlokasi di kawasan industri Tunas Prima, Batam. (Foto: Aldy Daeng/Batamtoday)  

BATAMTODAY.COM, Batam - Indonesia mencatat tonggak baru dalam penguatan industri hilirisasi nasional dengan diresmikannya pabrik solder ramah lingkungan pertama di Tanah Air, pada Kamis (10/7/2025).

Pabrik tersebut milik PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA), anak usaha dari Arsari Tambang, yang berlokasi di kawasan industri Tunas Prima, Batam.

Berdiri di atas lahan seluas 6.500 meter persegi, fasilitas ini memiliki kapasitas produksi awal sebesar 2.000 ton solder batangan per tahun dan ditargetkan berkembang hingga 16.000 ton dengan mencakup varian produk lain seperti solder kawat, bubuk, dan pasta. Perusahaan membidik pendapatan tahunan hingga Rp 1 triliun.

"Peresmian pabrik ini membuktikan bahwa Indonesia mampu bersaing di industri hilirisasi global. Kita tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui produk ekspor berdaya saing," ujar Komisaris Utama Arsari Tambang, Hashim S Djojohadikusumo, dalam sambutannya.

Ia mengaku bangga atas proyek ini, bahkan lebih dari proyek besar sebelumnya. "Saya pernah membangun pabrik semen di Cibinong dan Cilacap, serta petrokimia di Tuban. Tapi justru proyek solder ini yang paling membanggakan karena relevansi dan dampaknya bagi masa depan industri nasional," katanya.

Hashim juga menyampaikan kesiapan STANIA membangun hingga delapan jalur produksi jika permintaan meningkat. Ia menegaskan kemajuan industri memerlukan kolaborasi lintas sektor, tanpa sekat politik.

"Kita semua anak bangsa. Pembangunan butuh sinergi seluruh elemen," tegasnya.

Lebih lanjut, Hashim menyinggung rencana ambisius pembangunan tiga juta unit rumah dan apartemen sosial tiap tahun, yang menurutnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 2-2,5 persen karena menggerakkan lebih dari 185 subsektor industri.

Pabrik STANIA menjadi simbol bahwa keberlanjutan dan industrialisasi bisa berjalan beriringan. Seluruh proses produksi ditenagai listrik dari Energi Baru Terbarukan (EBT) milik PLN, dengan sertifikat Renewable Energy Certificate (REC). Bangunan pabrik juga dirancang hemat energi, memaksimalkan pencahayaan alami.

Direktur Utama Arsari Tambang, Aryo P S Djojohadikusumo, menambahkan STANIA merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun ekosistem industri timah nasional. "Kami ingin Indonesia menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global berbasis timah, dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan," tuturnya.

Sebagai bentuk keseriusan, STANIA telah meneken Head of Agreement dengan PT Freeport Indonesia untuk pengadaan timbal dan perak, serta menjalin kemitraan dengan Volex, perusahaan global di bidang solusi konektivitas listrik dan elektronik.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi RI, Todotua Pasaribu, yang turut hadir dalam peresmian, menilai kehadiran pabrik ini sebagai bukti konkret sinergi antara pemerintah dan dunia usaha. "STANIA menunjukkan bahwa hilirisasi bukan sekadar wacana, melainkan masa depan industri nasional yang bisa diwujudkan," ungkapnya.

Hal senada disampaikan Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, yang menyambut positif investasi ini. "Kehadiran STANIA akan memberi dampak signifikan bagi perekonomian daerah serta membuka lapangan kerja baru di Batam," ujarnya.

Editor: Gokli

Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© 2026 BATAMTODAY.COM All Right Reserved
powered by: 2digit