logo batamtoday
Selasa, 30 Juni 2026
PKP BATAM


Masjid Qiblatain, Jejak Sejarah Berubahnya Arah Kiblat Umat Islam
Minggu, 28-06-2026 | 19:32 WIB | Penulis: Saibansah
 
Keindahan Masjid Qiblatain di Madinah yang selalu ramai dikunjungi umat Islam dari berbagai negara di dunia. (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)  

BATAMTODAY.COM, Madinah - Setelah menyusuri jejak sejarah masjid-masjid di sekitar Masjid Nabawi, masih ada satu lagi masjid yang wajib dikunjungi, Masjid Qiblatain. Ya, sesuai dengan namanya, 'Masjid Dua Kiblat', di masjid ini ada dua kiblat yang dua-duanya pernah menjadi arah sholat umat Islam. Yaitu, Ka'bah dan kiblat lama umat Islam, Baitul Maqdis di Yerusalem.

Bagaimana jejak sejarah dua kiblat di Masjid Qiblatain? Berikut ini catatan Pemimpin Redaksi BATAMTODAY.COM, Saibansah Dardani yang saat ini bertugas menjadi MCH (Media Center Haji) PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi 2026 Daker (Daerah Kerja) Madinah.

Ahad, 28 Juni 2026 pukul 07:10 WAS (Waktu Arab Saudi) kami bergerak dari kawasan Jalan Syuhada' Uhud Street Madinah. Tujuan saya dan Tim MCH Daker Madinah adalah menyusuri jejak perubahan arah kiblat sholat umat Islam di Masjid Qiblatain.

Dari luar, bangunan bercat putih dengan kubah yang anggun dan dua menara itu tampak tak berbeda dengan masjid-masjid lain di Madinah. Namun, bagi umat Islam, tempat ini menyimpan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah syariat.

Inilah Masjid Qiblatain, masjid yang menjadi saksi perubahan arah kiblat umat Islam dari Baitul Maqdis di Yerusalem menuju Ka'bah di Makkah. Sebuah perubahan yang tidak hanya mengubah arah salat, tetapi juga menegaskan identitas umat Islam sebagai komunitas yang mandiri.

"Nama aslinya sebenarnya Masjid Bani Salimah, karena dahulu wilayah ini merupakan permukiman Bani Salimah, salah satu kabilah Anshar yang setia mendukung perjuangan Rasulullah SAW," ujar Ibrahim Al Haq, mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM) yang kerap mendampingi jamaah Indonesia menelusuri situs-situs sejarah di kota Nabi.

Jauh sebelum menjadi destinasi ziarah, kawasan ini merupakan lingkungan tempat tinggal Bani Salimah.

Menurut Ibrahim, anggota kabilah tersebut pernah berniat memindahkan permukiman mereka lebih dekat ke Masjid Nabawi agar bisa selalu bersama Rasulullah SAW. Namun Nabi justru meminta mereka tetap tinggal di tempat semula.

Dalam sejumlah hadits riwayat Imam Muslim disebutkan, Rasulullah bersabda kepada Bani Salimah agar tetap menetap karena setiap langkah menuju masjid akan dicatat sebagai pahala.

Pesan itu membuat mereka tetap bertahan di kawasan tersebut, yang kelak justru menjadi lokasi salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Islam.

Pada masa awal Islam, Rasulullah SAW bersama para sahabat melaksanakan salat menghadap ke Baitul Maqdis, kota suci yang kini berada di Yerusalem.

Arah kiblat tersebut dipertahankan sejak periode Makkah hingga sekitar 16 atau 17 bulan setelah hijrah ke Madinah.

Meski demikian, Rasulullah senantiasa berharap Allah SWT menetapkan Ka'bah sebagai kiblat umat Islam. Ka'bah merupakan bangunan yang dibangun Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS serta menjadi simbol tauhid sejak masa awal.

Menurut riwayat yang termuat dalam kitab-kitab hadis sahih, seperti Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, peristiwa tersebut terjadi pada tahun kedua Hijriah ketika Rasulullah sedang mengimami salat Zuhur, sebagian riwayat menyebut salat Asar, di masjid Bani Salimah.

Di tengah rakaat kedua, turun firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 144:

"Sungguh Kami melihat wajahmu menengadah ke langit. Maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram."

Menerima wahyu tersebut, Rasulullah segera berputar sekitar 180 derajat menghadap Ka'bah. Para sahabat yang berada di belakang beliau pun serentak mengikuti perubahan arah itu hingga salat selesai.

Peristiwa inilah yang kemudian membuat masjid tersebut dikenal sebagai 'Qiblatain', yang berarti "dua kiblat".

Perubahan kiblat memiliki makna yang jauh melampaui persoalan arah salat. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa perpindahan kiblat merupakan penegasan identitas umat Islam sekaligus ujian ketaatan kaum Muslim terhadap perintah Allah.

Momentum tersebut juga menandai berakhirnya fase awal Islam yang masih menggunakan kiblat Baitul Maqdis dan dimulainya orientasi penuh kepada Ka'bah sebagai pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia.

Sejak saat itu, jutaan Muslim dari berbagai penjuru bumi menghadap ke satu titik yang sama ketika menunaikan salat.

Masjid Qiblatain pertama kali dibangun secara sederhana pada masa Rasulullah.

Bangunan itu kemudian beberapa kali dipugar, mulai dari era Khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika menjadi Gubernur Madinah pada awal abad ke-8 Masehi, masa Kesultanan Utsmaniyah, hingga renovasi besar oleh Pemerintah Arab Saudi pada akhir abad ke-20.

Kini, bangunan masjid tampil megah dengan arsitektur khas Timur Tengah berwarna putih yang menjadi salah satu ikon wisata religi Madinah.

Di bagian dalam, pengunjung masih dapat melihat sebuah mihrab kecil yang sengaja dipertahankan sebagai penanda arah kiblat lama menuju Baitul Maqdis. Sementara mihrab utama tetap menghadap Ka'bah dan digunakan untuk pelaksanaan salat berjamaah.

Keberadaan dua mihrab itulah yang mengingatkan setiap pengunjung pada momen ketika wahyu turun dan arah sejarah umat Islam berubah dalam sekejap.

Menjelang sore, halaman Masjid Qiblatain kembali dipenuhi rombongan jamaah dari berbagai negara. Mereka bergantian memasuki ruang salat, mengabadikan momen, lalu duduk sejenak menikmati suasana yang tenang.

Bagi sebagian orang, kunjungan ke tempat ini mungkin hanya menjadi bagian dari rangkaian city tour selama berada di Madinah.

Namun bagi mereka yang memahami kisah di baliknya, setiap sudut masjid menghadirkan pelajaran tentang ketaatan, persatuan, dan perjalanan panjang pembentukan identitas umat Islam.

Di sinilah, lebih dari empat belas abad silam, arah salat berubah. Bersamaan dengan itu, arah perjalanan peradaban Islam pun memasuki babak baru yang jejaknya masih dapat dirasakan hingga kini oleh lebih dari dua miliar Muslim di seluruh dunia.

Editor: Gokli

Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© 2026 BATAMTODAY.COM All Right Reserved
powered by: 2digit