BATAMTODAY.COM, Batam - Batam semakin menunjukkan ketangguhannya sebagai salah satu destinasi investasi unggulan di Indonesia. Selain mencatat pertumbuhan investasi yang signifikan, kota industri ini juga berhasil menarik investor dari berbagai negara, sehingga memperkuat daya tahan ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global.
Berdasarkan data Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), lima negara penyumbang investasi terbesar di Batam pada Triwulan I-2026 berasal dari Singapura, Hong Kong, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang. Komposisi tersebut mencerminkan semakin beragamnya basis investor yang menanamkan modal di Batam.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menilai capaian tersebut menjadi indikator kuat meningkatnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Batam. "Data ini menunjukkan bahwa Batam tetap menjadi kawasan yang dipercaya investor. Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, Batam justru mampu mencatat pertumbuhan investasi yang kian menguat. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa iklim investasi Batam terus membaik dan semakin kompetitif," ujar Amsakar, Senin (22/6/2026).
Menurut Amsakar, keberagaman negara asal investasi menjadi keunggulan tersendiri karena membuat Batam tidak bergantung pada satu sumber modal tertentu. Kondisi tersebut dinilai mampu meningkatkan ketahanan ekonomi daerah terhadap gejolak global maupun perubahan kebijakan ekonomi internasional.
Realisasi investasi Batam pada periode Januari hingga Maret 2026 mencapai Rp 17,4 triliun atau tumbuh 102,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai tersebut terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 8,8 triliun yang meningkat 50,71 persen dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 8,5 triliun atau melonjak 216,18 persen secara tahunan.
Tren positif tersebut melanjutkan capaian investasi sepanjang 2025 yang juga mencatat pertumbuhan signifikan. Berdasarkan data LKPM, realisasi investasi Batam tahun 2025 mencapai Rp 44,01 triliun atau meningkat 72,83 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp 25,46 triliun. Angka itu sekaligus melampaui target investasi tahun 2025 sebesar Rp 36,9 triliun.
Sementara itu, berdasarkan metode perhitungan investasi BP Batam melalui pendekatan bottom-up, nilai investasi yang terealisasi mencapai Rp 69,30 triliun atau setara 115,50 persen dari target BP Batam sebesar Rp 60 triliun.
Amsakar menjelaskan bahwa pertumbuhan investasi tersebut merupakan hasil dari berbagai upaya pembenahan yang dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari penyederhanaan layanan investasi, reformasi regulasi, hingga percepatan pembangunan infrastruktur pendukung.
"Ketika investasi terus tumbuh, baik dari dalam maupun luar negeri, itu berarti para pelaku usaha melihat peluang dan masa depan yang baik di Batam," katanya.
Dari sisi sektor usaha, investasi yang masuk ke Batam didominasi sektor bernilai tambah tinggi. Industri mesin dan elektronik menjadi kontributor terbesar dengan porsi 23,65 persen, disusul sektor kimia dan farmasi sebesar 21,18 persen, jasa lainnya 17,70 persen, serta kawasan industri dan properti sebesar 13,09 persen.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi Batam semakin didorong oleh sektor manufaktur, teknologi, dan industri produktif lainnya yang memiliki kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan daya saing ekonomi daerah.
Untuk menjaga tren positif tersebut, BP Batam terus menjalankan berbagai kebijakan strategis, termasuk perluasan wilayah Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2025.
Melalui regulasi tersebut, wilayah KPBPB Batam bertambah dari delapan pulau menjadi 22 pulau dengan luas kawasan meningkat dari sekitar 71.500 hektare menjadi 152.686,44 hektare. Perluasan ini membuka peluang investasi baru di sektor industri, logistik, pariwisata, energi, hingga pengembangan ekonomi masa depan.
Selain itu, BP Batam juga mempercepat pembangunan berbagai infrastruktur strategis seperti jalan dan jembatan, pelabuhan, bandara, jaringan distribusi air minum, instalasi pengolahan air limbah, serta fasilitas pelayanan publik lainnya.
"Kami ingin memastikan bahwa setiap investor yang datang memperoleh kepastian usaha, dukungan infrastruktur yang memadai, serta pelayanan yang cepat dan profesional. Dengan sinergi tersebut, investasi yang masuk tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tutup Amsakar.
Editor: Gokli
