logo batamtoday
Jum'at, 05 Juni 2026
PKP BATAM


Literasi Pelajar di Batam Masih Jadi Tantangan, Herman Rozi Ajak Semua Pihak Bergerak
Kamis, 04-06-2026 | 14:28 WIB | Penulis: Aldy
 
Kepala Dinas Perpustakaan Kota Batam, Herman Rozi. (Foto: Aldy)  

BATAMTODAY.COM, Batam - Rendahnya minat baca di kalangan pelajar masih menjadi tantangan utama dalam upaya meningkatkan indeks literasi masyarakat di Kota Batam. Untuk mengatasinya, diperlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, dunia usaha, komunitas, lembaga pendidikan, media massa, hingga masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Perpustakaan Kota Batam, Herman Rozi, saat menghadiri peringatan World Book Day 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kepri di Kantor Perwakilan BI Kepri, Kamis (4/6/2026).

Kegiatan tersebut merupakan puncak rangkaian program literasi yang telah berlangsung sejak April 2026. Acara diisi dengan bedah buku "Hati yang Gembira Adalah Obat" karya Sophie Navita dan diikuti lebih dari 100 mahasiswa serta pegiat literasi di Kota Batam.

Herman menegaskan bahwa peningkatan literasi tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau perpustakaan. Menurutnya, setiap elemen masyarakat memiliki peran dan kontribusi sesuai kapasitas masing-masing.

"Untuk meningkatkan literasi di Kota Batam maupun Kepulauan Riau dibutuhkan kerja sama yang kolaboratif. Tidak semua pencinta buku mampu menyediakan buku atau fasilitas literasi, tetapi setiap pihak dapat berkontribusi sesuai kemampuan yang dimiliki," ujar Herman.

Ia mencontohkan dukungan yang diberikan BI Kepri melalui berbagai program literasi, termasuk kegiatan bedah buku yang mampu mempertemukan masyarakat dan komunitas literasi dalam satu ruang diskusi yang produktif. "Kegiatan seperti ini menjadi salah satu langkah untuk menumbuhkan minat baca masyarakat sekaligus memperkuat budaya literasi," katanya.

Menurut Herman, media massa, komunitas, institusi pendidikan, hingga kalangan dunia usaha memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun budaya membaca. Tanpa dukungan dan kolaborasi lintas sektor, peningkatan indeks pembangunan literasi masyarakat akan sulit diwujudkan.

Ia menilai Batam yang dikenal sebagai kota industri dan kota digital seharusnya mampu menunjukkan capaian literasi yang lebih baik. "Batam berada dekat dengan negara-negara maju dan telah lama dikenal sebagai kota digital. Namun, kita perlu bertanya sejauh mana perkembangan literasi digital masyarakat. Karena itu, dukungan seluruh pihak, termasuk perusahaan melalui penyediaan sarana dan fasilitas literasi, sangat dibutuhkan," ujarnya.

Herman juga menyoroti perubahan pola konsumsi informasi di kalangan pelajar yang kini lebih banyak mengakses konten digital dibanding membaca buku. Menurutnya, kondisi tersebut harus direspons dengan menghadirkan perpustakaan yang lebih modern, nyaman, dan menarik.

"Jika perpustakaan tidak menarik, bukan hanya anak-anak yang enggan datang, tetapi juga orang dewasa. Karena itu, fasilitas harus ditingkatkan, koleksi buku diperbarui, dan ruang perpustakaan dibuat lebih nyaman bagi pengunjung," katanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh dipandang sebagai ancaman terhadap budaya membaca. Kehadiran buku digital, e-book, dan berbagai platform digital justru dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan.

"Saat ini anak-anak sangat akrab dengan telepon pintar. Karena itu, yang perlu dilakukan adalah menyediakan konten-konten digital yang menarik sekaligus edukatif," ujarnya.

Selain itu, Herman mengingatkan pentingnya literasi dalam menghadapi maraknya penyebaran informasi palsu atau hoaks di media sosial. Menurutnya, kebiasaan membaca akan membantu masyarakat berpikir lebih kritis dalam menerima, membandingkan, dan memverifikasi informasi.

"Sering kali masyarakat mudah percaya terhadap hoaks karena kurang membaca. Literasi bukan hanya membaca buku, tetapi juga kemampuan mencari, memahami, membandingkan, dan memverifikasi informasi yang diterima," katanya.

Sebagai upaya menumbuhkan minat baca sejak usia dini, Dinas Perpustakaan Kota Batam terus mengoptimalkan program perpustakaan keliling yang menyasar sekolah dasar hingga sekolah menengah. "Melalui perpustakaan keliling, kami hadir langsung ke sekolah-sekolah agar anak-anak mengenal perpustakaan sejak dini dan tumbuh kecintaannya terhadap kegiatan membaca," ujar Herman.

Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, mengatakan peringatan World Book Day menjadi momentum penting untuk mengajak masyarakat kembali menumbuhkan budaya membaca yang mulai tergerus perkembangan teknologi.

Menurutnya, literasi merupakan fondasi utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Namun, tantangan yang dihadapi saat ini adalah menurunnya minat baca, terutama di kalangan generasi muda yang lebih banyak menghabiskan waktu menggunakan gawai.

"Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), tidak boleh menggeser kebiasaan membaca dan menulis. Literasi tetap menjadi fondasi dalam membangun pola pikir yang kritis, kreatif, dan kompetitif," kata Ardhienus.

Editor: Gokli

Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© 2026 BATAMTODAY.COM All Right Reserved
powered by: 2digit