logo batamtoday
Minggu, 17 Mei 2026
PKP BATAM


Pertemuan Trump-Xi Jinping Belum Beri Solusi Akhiri Konflik Timur Tengah
Minggu, 17-05-2026 | 14:32 WIB | Penulis: Irawan
 
Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Luar Negeri DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Henwira Halim (Foto: Istimewa)  

BATAMTODAY.COM, Jakarta-Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Luar Negeri DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Henwira Halim mengatakan, pertemuan bilateral antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing, pada Kamis (15/5/2026) belum memberikan solusi bagi penyelesaian konflik di Timur-Tengah (Timteng).

"Situasi perundingan antara Amerika dan China di Beijing ini, memang tidak langsung clear memberikan solusi. Ini baru satu pertemuan, dan Trump memberikan undangan ke Xi Jinping untuk melanjutkan perundingan pada September," kata Henwira di Jakarta, Minggu (17/5/2026).

Hal itu disampaikan Henwira Halim dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema 'Trump Temui Xi Jinping? Mengungkap Agenda Besar ke Tiongkok' di Jakarta, Jumat (15/5/2026) malam.

Xi Jinping, menurut dia, sudah mengancam Trump dalam tanda kutip agar tidak menjadikan China sebagai musuh atau rival Amerika.

Melainkan harus menjadi patner untuk urusan yang menyangkut kepentingan bersama, terutama pada isu-isu ekonomi.

"Istilahnya, Amerika ini singa tua yang sudah mapan di puncuk kekuasaan, sedangkan China adalah singa muda yang sedang naik daun. Artinya jangan sampai berantem," ujar Henwira.

Sehingga keberlanjutan hubungan antara Amerika-China diharapkan tidak terganggu berbagai isu konflik geopolitik seperti yang terjadi pada perang di Timteng dan potensi konflik Taiwan

China menjamin hubungannya dengan Amerika akan baik-baik saja, sepanjang negara Paman Sam itu tidak kelewatan soal Taiwan.

"Ini statement yang cukup keras dari China yang cukup direct. Membuat membuat kita paham, bahwa Taiwan ini, isu prioritas China ketika berhadapan dengan Donald Trump," katanya.

Karena itu, selama pertemuan tersebut hingga selesai, Trump tidak menyinggung dan merespon sama sekali pernyataan dari China, karena tidak ingin membuat marah Xi Jinping.

Sebab, Amerika berharap agar China menekan Iran untuk segera membuka blokade Selat Hormuz, sehingga kapal tanker, serta kapal dagang mereka dan sekutunya diberikan izin lewat oleh Iran.

"Kalau bagi Asia Tenggara, khususnya Indonesia, pertemuan ini belum memberikan dampak perubahan, karena belum masuk ke ranah isu-isu geopolitik, baru pada isu-isu ekonomi," katanya.

Trump berharap pertemuan dengan Xi Jinping ini tidak mengganggu prioritasnya dalam bidang ekonomi menjelang pelaksanaan Pemilu Sela AS pada November 2026 mendatang.

"Trump tidak ingin hubungannya dengan Xi Jinping memanas lagi, karena pasokan energi Amerika tersendat di Selat Hormuz," katanya.

Sebab, energi adalah salah satu komponen yang mempengaruhi distribusi logistic secara global.

Apabila pasokan energinya terganggu, dikuatirkan akan mempengaruhi kenaikan harga barang-barang kebutuhan lainnya.

"Perang dagang antara Amerika dan China tahun lalu, sudah memberikan dampak sifnifiikan. Kalau ini memanas lagi gara-gara tersendatnya pasokan energi, tentu akan berpengaruh secara global," katanya.

Henwira menegaskan, bahwa blokade Selat Hormuz tidak hanya merugikan Amerika, tetapi juga China secara langsung.

"Pasca Amerika menguasai minyak Venezuela dan perusahaan China diusir, praktis pasokan energi China dari Iran. Kalau Selat Hormuz terblokir, juga berdampak pada China," katanya.

Meskipun secara geopolitik Amerika masih diatas angin dibandingkan China, tetapi China memiliki waktu yang tepat secara geopolitik. Sehingga mau tak mau Trump harus berkompromi dengan Xi Jinping.

"Hal itu memang tercermin dari perlakuan Xi Jinping terhadap Trump, diberikan segala macam servis dan penghormatan. Xi Jinping ingin memenangkan hati Trump," ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, kata Henwira, Indonesia diharapkan dapat bermain di ‘dua karang’ membina hubungan baik dengan Amerika dan China.

"Kita harus netral , tidak perlu curiga dan tidak perlu konfrontatif baik dengan Amerika dan China. Karena jika sebaliknya yang terjadi, maka mendayung di antara dua karang ini jadi semakin berat. Karangnya semakin tajam dan ombak di antara dua karangnya juga semakin keras," katanya.

Ketua Korbid Luar Negeri DPP Partai Gelora menilai perang antara Amerika-Iran harus segera diakhiri secara damai, karena berdampak secara global jika situasinya semakin memanas.

"Perang Ini harus kita cermati terus, bukan cuma soal dinamika saja, tetapi efeknya terhadap situasi global, termasuk dampaknya terhadap negara kita," pungkasnya.

Editor: Surya

Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© 2026 BATAMTODAY.COM All Right Reserved
powered by: 2digit