BATAMTODAY.COM, Jakarta - Usaha kecil di Indonesia memasuki tahun 2026 dengan tingkat optimisme tinggi. Sebanyak 86 persen pelaku usaha menyatakan keyakinannya terhadap pertumbuhan bisnis tahun ini, menjadi level tertinggi sejak 2019.
Temuan tersebut berasal dari Survei Usaha Kecil Asia-Pasifik ke-17 yang dirilis CPA Australia. Survei ini mencakup 11 ekonomi di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Australia dan Selandia Baru.
Selain optimisme bisnis, kepercayaan terhadap perekonomian nasional juga terjaga. Sebanyak 71 persen responden memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia, melampaui rata-rata kawasan yang berada di angka 65 persen.
Regional Head CPA Australia untuk Asia Tenggara, Priya Terumalay, menyebut investasi teknologi menjadi faktor utama yang mendorong optimisme tersebut. "Imbal hasil investasi teknologi yang kuat dan cepat terus mendorong tingginya tingkat adopsi digital," ujarnya, dalam keterengan pers, Jumat (24/4/2026).
Sepanjang 2025, sebanyak 72 persen usaha kecil di Indonesia melaporkan bahwa investasi teknologi berdampak positif terhadap profitabilitas, jauh di atas rata-rata survei sebesar 56 persen.
Namun demikian, Priya menilai investasi teknologi masih terkonsentrasi pada perangkat keras dan sistem yang berhadapan langsung dengan pelanggan, seperti aplikasi gawai dan sistem pembayaran digital. "Usaha kecil perlu lebih serius mengadopsi teknologi yang meningkatkan produktivitas, seperti kecerdasan buatan, layanan berbasis cloud, dan perangkat lunak manajemen hubungan pelanggan," katanya.
Di sisi lain, penggunaan pembayaran digital dan penjualan daring mengalami sedikit penurunan. Sekitar 69 persen usaha kecil memperoleh lebih dari 10 persen penjualannya melalui platform digital pada 2025, turun dari 74 persen pada 2024. Sementara itu, kontribusi penjualan online juga menurun dari 68 persen menjadi 64 persen.
Ancaman keamanan siber turut menjadi perhatian. Sebanyak 49 persen pelaku usaha mengaku mengalami kerugian akibat serangan siber sepanjang 2025. Namun, hanya 45 persen yang melakukan evaluasi perlindungan keamanan dalam enam bulan terakhir.
"Pelaku usaha harus memastikan investasi teknologi diimbangi dengan langkah perlindungan yang memadai untuk meminimalkan risiko siber," tegas Priya.
Seiring pertumbuhan bisnis, penyerapan tenaga kerja juga meningkat. Sebanyak 40 persen usaha kecil menambah karyawan pada 2025, dan angka tersebut diproyeksikan naik menjadi 52 persen pada 2026.
Kebutuhan pembiayaan eksternal pun masih tinggi, dengan 78 persen usaha kecil mengandalkan pendanaan dari luar sepanjang 2025, tren yang diperkirakan berlanjut tahun ini.
Meski sentimen bisnis positif, tingkat inovasi justru menurun. Hanya 28 persen pelaku usaha yang berencana meluncurkan produk atau layanan baru pada 2026, turun dari 37 persen pada tahun sebelumnya.
"Kenaikan biaya operasional dan ketidakpastian global membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam berinovasi," jelas Priya.
Survei tersebut juga mencatat dominasi pengusaha muda dalam ekosistem usaha kecil di Indonesia. Sebanyak 57 persen responden berusia di bawah 40 tahun, menjadi proporsi tertinggi di kawasan yang disurvei.
"Pengusaha muda Indonesia memiliki peluang besar untuk meraih kinerja optimal melalui fokus pada kepuasan pelanggan, adopsi digital, serta strategi bisnis yang matang," pungkas Priya.
Editor: Gokli
