BATAMTODAY.COM, Yogyakarta - Di balik kemajuan ilmu peternakan dan ketahanan protein hewani di Indonesia, terdapat dedikasi luar biasa dari pasangan guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Ir Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng., dan Prof Dr Ir Nahrowi, M.Sc.
Selama lebih dari tiga dekade, keduanya mengabdikan diri untuk pendidikan, riset, dan inovasi dalam bidang peternakan demi menciptakan sistem pangan nasional yang lebih berkelanjutan.
Prof Ali Agus, yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Peternakan UGM, dikenal sebagai penggagas integrasi peternakan dan pertanian (integrated farming system) yang kini banyak diadopsi di berbagai daerah. Sementara istrinya, Prof Nahrowi, fokus meneliti pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak alternatif guna menekan biaya produksi sekaligus menjaga lingkungan.
"Kami percaya bahwa kontribusi nyata akademisi harus sampai pada masyarakat. Peternakan bukan sekadar bicara produksi, tetapi bagaimana memberi makan bangsa dengan cara yang adil dan lestari," ujar Prof Ali Agus dalam wawancara di UGM, Selasa (10/6/2025).
Kiprah keduanya tak hanya di tingkat nasional. Mereka aktif dalam forum ilmiah internasional, menjalin kerja sama riset dengan universitas dan lembaga ternama dunia, serta rutin memberikan pelatihan bagi peternak dan penyuluh di pelosok negeri. Salah satu riset unggulan mereka adalah pengembangan sistem pakan berbasis fermentasi lokal yang kini mulai diterapkan di peternakan rakyat.
Prof Nahrowi menekankan pentingnya membangun ekosistem riset yang inklusif. "Kami selalu melibatkan mahasiswa dan mitra dari berbagai latar belakang, karena tantangan pangan tak bisa dipecahkan oleh satu pihak saja," ungkapnya.
Pengabdian mereka telah menghasilkan ratusan publikasi ilmiah, hak kekayaan intelektual, dan inovasi yang dimanfaatkan secara luas. Keduanya juga tercatat sebagai pembimbing utama puluhan doktor dan magister yang kini menjadi dosen dan peneliti di berbagai perguruan tinggi.
Kisah Prof Ali Agus dan Prof Nahrowi menjadi inspirasi tentang bagaimana ilmu dan cinta terhadap negeri dapat berjalan seiring. Melalui ketekunan, kolaborasi, dan visi jangka panjang, mereka telah memberi warna penting dalam perjuangan Indonesia mencapai kemandirian protein hewani.
Editor: Gokli
