BATAMTODAY.COM, Madinah - Langkah demi langkah membawa peziarah meninggalkan hiruk-pikuk kawasan Masjid Nabawi menuju sisi barat laut Kota Madinah. Sekitar 2,5 kilometer dari masjid suci itu, berdiri sebuah bangunan sederhana berlatar bukit-bukit batu yang menyimpan kisah besar dalam sejarah Islam.
Itulah Masjid Khandaq atau lebih dikenal sebagai Masjid Al Fath, tempat yang diyakini menjadi lokasi Rasulullah SAW memanjatkan doa dan shalat ketika Perang Khandaq berlangsung pada tahun kelima Hijriah.
Suasana di kawasan masjid terasa tenang. Dinding-dindingnya yang mempertahankan nuansa arsitektur lama berpadu dengan bebatuan di lereng bukit, menghadirkan kesan seolah waktu berhenti di tempat ini. Pilar-pilar masjid menjadi sudut favorit para jamaah untuk mengabadikan momen, sementara sebagian lainnya memilih duduk sejenak, membayangkan perjuangan yang pernah terjadi di tempat tersebut lebih dari 14 abad silam.
Bagi para jamaah haji dan umrah, Masjid Khandaq bukan sekadar destinasi ziarah. Tempat ini menjadi ruang untuk mengenang salah satu strategi perang paling monumental dalam sejarah Islam, ketika Rasulullah SAW bersama sekitar 3.000 kaum Muslimin mempertahankan Madinah dari kepungan pasukan sekutu yang jumlahnya lebih dari tiga kali lipat.
Petugas Masjid Khandaq, Umair bin Seff, menjelaskan bahwa masjid tersebut dikenal pula dengan nama Masjid Al Fath. Menurutnya, di kawasan inilah Rasulullah SAW melaksanakan shalat saat berlangsungnya Perang Khandaq.
"Masjid ini biasa dikenal sebagai Masjid Al Fath atau Masjid Khandaq. Ketika Perang Khandaq, Nabi Muhammad SAW shalat di bawah bukit di sini," ujarnya.
Masjid Khandaq juga merupakan bagian dari kompleks Tujuh Masjid yang masing-masing dikaitkan dengan para sahabat Rasulullah SAW, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Salman Al Farisi, dan Sa'ad bin Mu'adz.
Dengan kapasitas sekitar 4.000 jamaah, masjid ini setiap hari menjadi tujuan peziarah dari berbagai negara. Keramaian biasanya mencapai puncaknya setiap Jumat, ketika banyak jamaah memilih menunaikan shalat Jumat sekaligus berziarah. Pengelola masjid juga menyediakan minuman bagi para pengunjung sebagai bentuk pelayanan kepada tamu-tamu Allah.
Di balik ketenangan kawasan ini, tersimpan kisah perjuangan yang mengubah arah sejarah Islam. Perang Khandaq, yang juga dikenal sebagai Perang Ahzab, pecah pada bulan Syawal hingga Dzulqa'dah tahun kelima Hijriah. Saat itu pasukan gabungan Quraisy, Ghathafan, dan sekutu lainnya berjumlah sekitar 10.000 orang bergerak menuju Madinah dengan tujuan menghancurkan kaum Muslimin.
Menghadapi ancaman besar tersebut, Rasulullah SAW menerima usulan Salman Al Farisi untuk menggali parit di sisi utara Madinah, sebuah strategi pertahanan yang belum pernah dikenal masyarakat Arab ketika itu. Di bawah terik matahari dan dalam keadaan menahan lapar, kaum Muslimin bekerja bersama menggali parit sebagai benteng yang menghalangi laju musuh.
Strategi itu terbukti efektif. Pasukan sekutu terkejut mendapati parit besar yang tak mampu mereka lintasi sehingga pengepungan terhadap Madinah berlangsung selama hampir satu bulan. Dalam masa-masa sulit itu, kaum Muslimin juga menghadapi ujian berupa pengkhianatan Bani Quraizhah dari dalam kota.
Namun, sejarah kemudian mencatat kemenangan berada di pihak kaum Muslimin. Selain melalui strategi diplomasi Nu'aim bin Mas'ud yang memecah belah kekuatan sekutu, pertolongan Allah SWT datang dalam bentuk angin kencang yang memorak-porandakan perkemahan musuh hingga mereka akhirnya menarik mundur pasukannya.
Kini, ketika para jamaah berdiri di halaman Masjid Khandaq, yang tersisa bukan lagi suara denting senjata atau riuh pasukan perang. Yang hadir adalah keheningan yang mengajak setiap pengunjung merenungkan arti keteguhan, ikhtiar, dan tawakal.
Perjalanan menuju Masjid Khandaq pada akhirnya bukan hanya wisata sejarah. Ia menjadi pengingat bahwa setiap kemenangan besar lahir dari pengorbanan, kerja sama, dan keyakinan kepada Allah SWT. Di antara bukit-bukit batu Madinah, jejak perjuangan itu masih terasa hidup, menyapa setiap hati yang datang untuk belajar dari sejarah.
Editor: Dardani
