BATAMTODAY.COM, Batam - Ada air mata yang tak sempat jatuh ketika 27 anggota Kontingen Pesta Paduan Suara Gerejawi (PSW) Kepulauan Riau berdiri di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Mereka mengenakan seragam kebanggaan, membawa mimpi mengharumkan nama daerah di ajang Pesparawi Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat.
Namun, mimpi itu berhenti sebelum mencapai garis awal.
Pesawat yang seharusnya membawa mereka menuju Manokwari tak pernah bisa dinaiki. Tiket yang mereka pegang ternyata hanya berupa dokumen pemesanan (booking) dalam format PDF tertanggal 24 Juni 2026, bukan tiket penerbangan yang dapat digunakan untuk keberangkatan.
Kesalahan yang disebut sangat fatal itu bukan berasal dari para peserta. Mereka hanya menjalankan tugas sebagai duta daerah yang telah berlatih selama berbulan-bulan demi tampil di panggung nasional.
Ironisnya, sebelum keberangkatan, rombongan telah dilepas secara resmi oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura. Doa dan harapan mengiringi langkah mereka agar mampu membawa pulang prestasi sekaligus mengharumkan nama Kepulauan Riau.
Tak seorang pun menyangka perjalanan itu justru berakhir di ruang tunggu bandara.
Harapan untuk berdiri di panggung Pesparawi Nasional XIV perlahan berubah menjadi kekecewaan. Di balik seragam yang masih rapi, tersimpan rasa kecewa yang sulit diungkapkan. Mereka bukan kalah karena penampilan, bukan pula gugur karena penilaian dewan juri.
Kesempatan itu bahkan tak pernah datang.
Informasi yang beredar menyebutkan anggaran perjalanan kontingen yang bersumber dari APBD, termasuk kebutuhan tiket pulang-pergi, mencapai lebih dari Rp 1 miliar. Namun, besarnya anggaran itu tidak mampu mengantarkan para peserta tiba di lokasi perlombaan.
Di tengah ketidakpastian, para peserta terus berupaya mencari solusi. Mereka menghubungi panitia di Kepulauan Riau dengan harapan masih ada jalan agar dapat melanjutkan perjalanan menuju Manokwari. Namun, berbagai upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Alih-alih menyerah pada keadaan, para anggota kontingen memilih melakukan sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Di tengah lalu lalang ribuan penumpang Terminal 3 Soekarno-Hatta, mereka berdiri membentuk formasi, lalu menyanyikan lagu yang selama ini dipersiapkan untuk kompetisi nasional.
Bukan di gedung megah Pesparawi Nasional.
Bukan di hadapan dewan juri.
Bukan pula untuk memperebutkan medali atau piala.
Mereka bernyanyi di ruang tunggu bandara.
Suara mereka menggema memenuhi terminal, mengundang perhatian para penumpang yang spontan berhenti menyaksikan penampilan tersebut. Tepuk tangan, pujian, dan apresiasi mengalir dari masyarakat yang menyaksikan secara langsung maupun melalui rekaman video yang kemudian tersebar luas di media sosial.
Lagu yang semestinya menjadi persembahan di panggung Pesparawi Manokwari akhirnya hanya menjadi saksi bisu sebuah perjuangan yang kandas sebelum dimulai.
Tanpa penilaian.
Tanpa pengumuman juara.
Tanpa podium kemenangan.
Namun, penampilan itu justru menghadirkan simpati dari banyak masyarakat Indonesia yang ikut merasakan kepedihan para peserta.
Di balik harmoni suara yang mereka lantunkan, tersimpan luka mendalam akibat sebuah kelalaian yang diduga berkaitan dengan dokumen perjalanan. Peristiwa ini bukan sekadar kegagalan mengikuti perlombaan, melainkan juga hilangnya kesempatan yang telah dipersiapkan melalui latihan panjang, pengorbanan waktu, tenaga, dan harapan.
Kisah Kontingen PSW Kepulauan Riau menjadi pengingat bahwa sebuah kesalahan administratif dapat berdampak besar terhadap perjuangan puluhan orang yang telah mengabdikan diri membawa nama daerah.
Apa yang terjadi di Terminal 3 Soekarno-Hatta mungkin tidak akan tercatat sebagai penampilan resmi dalam sejarah Pesparawi Nasional XIV. Namun, bagi banyak orang yang menyaksikannya, momen tersebut menjadi simbol keteguhan, dedikasi, dan kecintaan terhadap pelayanan melalui musik.
Suara mereka memang tidak pernah sampai ke panggung Manokwari.
Namun, gema perjuangan itu telah sampai ke hati banyak orang.
Peristiwa ini pun dipastikan akan menjadi salah satu catatan paling pilu dalam perjalanan kontingen Kepulauan Riau di ajang Pesparawi Nasional --sebuah kisah tentang mimpi yang terhenti di bandara, tetapi tetap dikenang karena semangat yang tidak pernah padam.
Editor: Gokli
