logo batamtoday
Rabu, 13 Mei 2026
PKP BATAM


Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Virus Hanta, Kasus HFRS di Indonesia Naik
Selasa, 12-05-2026 | 11:48 WIB | Penulis: Redaksi
 
Ilustrasi.  

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus Hanta menyusul meningkatnya temuan kasus di Indonesia serta laporan internasional terkait kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) di kapal pesiar MV Hondius.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, menegaskan hingga saat ini Indonesia belum menemukan kasus HPS. Seluruh kasus yang terkonfirmasi di Tanah Air merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul Virus.

"Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Kasus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional," ujar dr Andi Saguni dalam konferensi pers daring, Senin (11/5/2026).

Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang 2024 hingga Mei 2026 tercatat 256 kasus suspek virus Hanta dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS. Kasus tersebut tersebar di sejumlah daerah, antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur.

Tren kasus terkonfirmasi juga mengalami peningkatan. Pada 2024 hanya ditemukan satu kasus, kemudian meningkat menjadi 17 kasus pada 2025, dan bertambah lima kasus hingga Mei 2026.

Menurut dr Andi, peningkatan angka temuan kasus dipengaruhi penguatan sistem deteksi dini dan kapasitas pemeriksaan laboratorium di Indonesia. "Peningkatan kasus yang terlaporkan menunjukkan sistem kewaspadaan dan deteksi dini kita semakin baik. Karena itu masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus waspada terhadap faktor risiko penularan," katanya.

Virus Hanta diketahui dapat menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk melalui urin, air liur, maupun kotorannya. Risiko penularan meningkat pada lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, wilayah pascabanjir, hingga aktivitas luar ruang seperti berkemah dan mendaki.

Selain memantau perkembangan kasus di dalam negeri, Kemenkes juga merespons laporan internasional terkait satu kontak erat kasus HPS dari kapal pesiar MV Hondius yang sempat berada di Indonesia. Kontak erat tersebut telah menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso dan hasil laboratorium dinyatakan negatif untuk Hantavirus tipe HPS maupun HFRS.

"Begitu notifikasi diterima, kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, koordinasi lintas sektor, pemeriksaan laboratorium, hingga pemantauan terhadap kontak erat tersebut," jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes memperkuat pengawasan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual, dan sistem surveilans pelaku perjalanan. Pemerintah juga memperkuat jejaring laboratorium yang memiliki kemampuan pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS), serta meningkatkan kesiapan 198 rumah sakit jejaring penyakit infeksi emerging di seluruh Indonesia.

"Kami terus memperkuat kesiapsiagaan nasional mulai dari surveilans, laboratorium, hingga layanan kesehatan agar setiap potensi kasus dapat ditangani secara cepat dan tepat," ujar dr Andi.

Kemenkes mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya, serta menyimpan makanan di tempat tertutup. Warga juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri badan, batuk, hingga sesak napas.

"Masyarakat diharapkan tetap tenang dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan pakai sabun, sebagai langkah utama pencegahan penyakit virus Hanta," tutup dr Andi Saguni.

Editor: Gokli

Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© 2026 BATAMTODAY.COM All Right Reserved
powered by: 2digit