BATAMTODAY.COM, Batam - Suasana merah-putih memenuhi Ballroom Hotel Aston Pelita, Minggu (16/11/2025), ketika ratusan kader PDI Perjuangan (PDIP) dari berbagai kabupaten/kota di Kepulau Riau (Kepri) berkumpul dalam Konferensi Daerah PDIP Provinsi Kepri dan Konfercab Kota Tanjungpinang, Batam, Karimun, serta Bintan. Dari panggung utama, gema salam Pancasila bergema dan disambut pekik merdeka yang memanaskan ruangan.
Di tengah atmosfer yang sarat semangat itu, Ketua DPD PDIP Kepri, Soerya Respationo, mengambil alih panggung dengan pidato yang mengalir, penuh nafas perjuangan.
Ia memadukan refleksi ideologis dengan seruan kebangkitan maritim, sebuah isu strategis yang disebutnya sebagai 'masa depan Kepri'.
Sebelum masuk ke inti pidato, Soerya menyampaikan penghormatan kepada para pejabat yang hadir, mulai dari Wali Kota Batam, Kepala BP Batam, Kapolda, Danrem, hingga unsur Forkopimda.
Ia juga mengapresiasi para kader dari semua tingkatan yang memenuhi ruangan.
Bagi Soerya Respationo, konferensi ini bukan hanya sebuah agenda struktural, melainkan momen ideologis untuk memperkuat jati diri partai.
Forum ini, katanya, menjadi ruang evaluasi perjalanan partai periode 2019-2024 sekaligus momentum memperkokoh disiplin, soliditas, dan arah gerak menuju masa depan.
"Kekuatan partai tidak hanya diukur dari kemenangan elektoral, tapi dari fondasi ideologis yang membebaskan rakyat dan memperkuat persatuan," ujar Soerya Respationo, disambut tepuk tangan yang gemuruh
Ia turut mengingatkan pentingnya imajinasi besar ala Bung Karno serta kesetaraan peran laki-laki dan perempuan sebagai dua sayap bangsa. "Apa yang dicita-citakan Sang Proklamator Bung Karno itu sangat mulia," imbuhnya.
Dalam bagian penting pidatonya, Soerya mengajak kader melihat Kepri sebagai entitas strategis dunia. "Kepri bukan sekadar petak di peta, tetapi simpul geostrategis yang mengendalikan arus barang dunia," katanya menegaskan posisi Kepri yang langsung menghadap Selat Malaka.
Namun potensi itu, lanjutnya, akan sia-sia tanpa visi besar dan keberanian politik. Dengan 90 persen wilayahnya berupa laut, Kepri menyimpan kekayaan maritim, energi, perikanan, hingga potensi wisata bahari yang luar biasa. Tantangannya, bagaimana kekayaan itu benar-benar kembali kepada rakyat.
Soerya menekankan bahwa arah pembangunan Kepri harus bertransformasi dari orientasi darat ke orientasi laut. "Laut bukan ancaman, laut adalah masa depan. Justru di laut kita jaya," tegasnya, mengutip filosofi Jalesveva Jayamahe.
Ia menekankan perlunya memperkuat nelayan, memberdayakan pulau-pulau kecil, mengembangkan industri maritim, serta menjaga ekosistem laut dari eksploitasi yang merugikan masyarakat.
Semua itu, katanya, harus berjalan dalam bingkai Pancasila dan Tri Sakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Menghadapi Pemilu 2029: Tantangan dan Peluang
Memasuki isu politik, Surya menyampaikan bahwa Pemilu 2029 menjadi medan besar yang harus dihadapi dengan kesiapan penuh. "Tantangan besar menanti, tetapi peluang kemenangan jauh lebih besar bila struktur partai solid," katanya.
Pria yang akrab disapa Romo ini menegaskan pentingnya konsolidasi dari DPD hingga anak ranting, serta gerakan turun langsung ke masyarakat sebagaimana selalu ditekankan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.
"Tidak boleh ragu, tidak boleh setengah hati. Kemenangan adalah keharusan," tegas Romo.
Pidato Soerya ditutup dengan ajakan membangun energi baru dari konferensi ini. Ia menginginkan strategi politik yang lebih tajam, struktur yang lebih kuat, dan gerakan kerakyatan yang semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kepri.
"Dengan disiplin, keyakinan, dan kerja nyata, inilah saatnya kita menangkan perjuangan di Kepri," seru Soerya Respationo, disambut tepuk tangan panjang para kader.
Editor: Surya
