BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memberikan catatan terhadap rencana pemerintah menambah enam kawasan ekonomi khusus (KEK) baru.
Kadin menilai langkah tersebut berisiko mengulang persoalan lama, mengingat sebagian KEK yang sudah ada belum menunjukkan hasil optimal.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang mengungkapkan, hingga semester I 2025, realisasi investasi KEK baru mencapai Rp 294 triliun dari target Rp 1.000 triliun. Angka ini menunjukkan kontribusi KEK terhadap perekonomian nasional masih jauh dari harapan.
"Dari 25 KEK yang ada, belum semuanya produktif. Ada hambatan yang membuat kawasan ini sulit berkembang, apakah karena infrastruktur yang belum memadai, pasokan energi, perizinan, atau insentif yang kurang menarik," ujar Sarman, Minggu (14/9/2025).
Dengan tambahan enam KEK, jumlah total kawasan akan menjadi 31. Kadin menegaskan pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh agar kebijakan ini tidak hanya menambah angka, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata.
"Harapan kami, 31 KEK ini betul-betul mampu mencapai tujuan, yakni menumbuhkan ekonomi daerah, mendorong pemerataan pembangunan, dan menciptakan lapangan kerja," tegas Sarman.
Menurut Kadin, agar investor tertarik masuk ke KEK, ada sejumlah faktor yang harus dipastikan pemerintah, mulai dari ketersediaan infrastruktur, kepastian lahan, pasokan energi, kemudahan perizinan, insentif fiskal, hingga kualitas tenaga kerja lokal.
Tanpa pembenahan faktor-faktor tersebut, KEK baru dikhawatirkan hanya akan mengulang nasib sebagian KEK lama yang belum berkembang optimal.
Editor: Surya
