BATAMTODAY.COM, Bintan - Di tengah geliat pembangunan daerah, Tugu Tanjak Adipura di Kabupaten Bintan justru menyimpan cerita berbeda. Ikon yang dahulu menjadi simbol keberhasilan meraih predikat kota bersih kini tampak meredup --secara harfiah dan makna.
Lampu hias yang dulu menerangi kawasan itu kini padam. Saat malam turun, kegelapan menyelimuti area tugu yang berdiri di Kelurahan Kijang Kota, Kecamatan Bintan Timur. Warna biru dan kuning yang sempat mencolok kini memudar, seolah menegaskan waktu yang berjalan tanpa perawatan memadai.
Tugu yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp 1,3 miliar tersebut kini kehilangan daya tariknya. Alih-alih menjadi pusat estetika kota, keberadaannya justru menghadirkan kesan terbengkalai di salah satu titik strategis wilayah tersebut.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Bintan, Mohammad Irzan, mengakui kondisi tersebut. Ia menyebut perbaikan belum dapat dilakukan dalam waktu dekat karena keterbatasan anggaran.
"Masih persiapan untuk perbaikan. Untuk sementara akan kita lakukan secara swadaya, jadi menunggu kemampuan swadaya. Nanti akan kita informasikan jika sudah berjalan," ujarnya saat dihubungi, Rabu (8/4/2026).
Padahal, sebelumnya perbaikan sempat dijanjikan akan dilakukan dalam dua pekan. "Untuk lampu di Tugu Tanjak akan kita lakukan perbaikan, kurang lebih dua minggu ke depan," kata Irzan beberapa waktu lalu.
Namun, hingga kini rencana tersebut belum terealisasi. Ironi semakin terasa karena Tugu Tanjak Adipura merupakan simbol penghargaan kebersihan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Predikat yang semestinya mencerminkan tata kelola lingkungan yang baik, kini berbanding terbalik dengan kondisi fisik tugu.
Secara visual, tanda-tanda penuaan terlihat jelas. Cat yang mengelupas, warna yang memudar, serta fasilitas yang tidak lagi berfungsi membuat pesona tugu semakin pudar.
Padahal, lokasinya cukup strategis, berada di sekitar Masjid Raya Nurul Iman Kijang dan berdekatan dengan kawasan wisata Kota Tua Kijang serta Air Pancur Tasik Gemilang. Namun, kondisi Air Pancur yang juga rusak dan tidak lagi beroperasi semakin memperkuat kesan kurang terawat di kawasan tersebut.
Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan pengelolaan aset daerah, terutama yang dibangun dengan anggaran besar. Di tengah keterbatasan fiskal, opsi perbaikan secara swadaya menjadi langkah yang kini ditempuh pemerintah daerah.
Kini, Tugu Tanjak Adipura tak hanya kehilangan cahaya, tetapi juga perlahan kehilangan makna sebagai simbol kebanggaan dan identitas kota yang pernah dijunjung tinggi.
Editor: Gokli
.jpg)