BATAMTODAY.COM, Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan bahwa perusahaan tidak cukup hanya menyediakan lapangan pekerjaan, tetapi juga harus membuka ruang bagi pekerja untuk berkembang dan meningkatkan kompetensi.
Menurutnya, pekerja seharusnya tidak berada pada posisi yang sama selama bertahun-tahun tanpa kesempatan belajar, menambah keterampilan, dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja yang terus berkembang.
Yassierli menilai pengembangan pekerja merupakan bagian penting dalam membangun hubungan industrial yang sehat, manusiawi, dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa pemberdayaan pekerja bukan sekadar bentuk kepedulian perusahaan, melainkan strategi jangka panjang yang berdampak positif terhadap keberlanjutan bisnis.
"Ini harus kita pahami sebagai sebuah strategi. Ketika kita memampukan pekerja, ketika kita memberdayakan mereka, maka itu akan memberikan long-term effect bagi perusahaan dalam jangka panjang," ujar Yassierli.
Ia menjelaskan, pekerja yang merasa didukung untuk berkembang akan memiliki keterikatan yang lebih kuat dengan perusahaan. Kondisi tersebut dapat menumbuhkan semangat kerja dan rasa memiliki, sehingga pekerja terdorong memberikan kontribusi lebih dari sekadar menjalankan tugas.
"Memberdayakan pekerja itu artinya membuat pekerjaan mereka menjadi meaningful. Mereka memiliki engagement, mereka memiliki semangat yang bahkan bisa melampaui sekadar menjalankan tugas mereka," katanya.
Selain pengembangan keterampilan, Yassierli juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah dalam hubungan antara pekerja dan perusahaan. Ia menilai nilai-nilai tersebut merupakan kekuatan sosial yang menjadi karakter bangsa Indonesia.
"Ada yang hilang dari DNA kita. Kita ini bangsa yang punya semangat gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah. Menurut saya DNA ini harus kita bangkitkan kembali," tuturnya.
Di sisi lain, ia mengaku prihatin apabila masih terdapat pekerja yang telah mengabdi selama 10 hingga 20 tahun di sebuah perusahaan, namun tidak mengalami perkembangan karier maupun peningkatan kemampuan. "Yang juga membuat saya sedih adalah ketika ada orang bekerja 10 tahun, bahkan 20 tahun di perusahaan, tetapi tidak berkembang. Padahal manusia itu memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang," ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab untuk membantu pekerja mengenali dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki, sekaligus memperluas keterampilan agar mereka dapat terus maju. "Siapa pun punya potensi untuk berkembang. Tugas kita adalah membantu menemukan dan mengoptimalkan potensi itu," kata Yassierli.
Sebagai contoh, ia mendorong para pekerja di berbagai posisi untuk mempelajari keterampilan baru, termasuk kemampuan komputer. Hal itu dinilai penting agar pekerja mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
"Driver saya dorong untuk belajar komputer. Satpam dan OB juga saya dorong untuk belajar komputer. Karena kita tidak ingin mereka selamanya hanya berada di posisi itu," ujarnya.
Yassierli juga mengingatkan bahwa dunia kerja ke depan akan menghadapi tingkat ketidakpastian yang semakin tinggi. Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi kunci penting bagi pekerja maupun perusahaan. "Tantangan ke depan itu tidak mudah. Ketidakpastian sekarang sangat tinggi. Karena itu agility menjadi kunci," katanya.
Ia berharap PT Jasa Marga dapat menjadi contoh perusahaan yang tidak hanya menjaga hubungan industrial tetap harmonis, tetapi juga mampu memanusiakan pekerja serta mempersiapkan mereka menghadapi tantangan masa depan.
"Saya berharap Jasa Marga bisa menjadi salah satu perusahaan yang menunjukkan contoh bagaimana perusahaan memanusiakan pekerja dan mempersiapkan mereka menghadapi tantangan ke depan," pungkasnya.
Editor: Gokli
