BATAMTODAY.COM, Pulau Derawan - Upaya menjaga kelestarian laut sekaligus mengatasi persoalan sampah wisata di Pulau Derawan kini memasuki babak baru. WWF-Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Berau membangun TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) bernama "RUPIAH" atau Rumah Pilah Sampah sebagai solusi pengelolaan sampah berkelanjutan di kawasan wisata tersebut.
Tingginya kunjungan wisatawan di Pulau Derawan berdampak pada peningkatan volume sampah, khususnya pada musim liburan. Aktivitas pariwisata bahkan dapat menghasilkan lebih dari 46 ton sampah nonrumah tangga per hari. Kondisi tersebut menjadi ancaman bagi ekosistem laut, terutama satwa yang kerap mengira plastik sebagai makanan sehingga memicu gangguan kesehatan hingga kematian.
Pembangunan TPS3R dimulai sejak September 2025 dan segera dioperasikan setelah peresmian. Fasilitas ini dilengkapi ruang pengelolaan sampah, kantor operasional, serta gudang peralatan. Selain sebagai tempat pengolahan sampah, TPS3R juga diharapkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan dan keberlanjutan pariwisata. Program ini turut mendukung inisiatif Laut Sehat Bebas Sampah yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dalam menekan sampah plastik laut.
Ketua Tim Pengelola TPS3R, Heryuni, menyampaikan antusiasme masyarakat terhadap fasilitas baru tersebut. "Kami senang sekali dengan adanya TPS3R ini. Selama ini sampah sering jadi masalah, terutama saat musim wisatawan. Dengan fasilitas ini, kami siap mengelola sampah dengan dukungan masyarakat agar Pulau Derawan tetap bersih," ujarnya, dalam keterangan pers, Jumat (13/2/2026).
Tim pengelola TPS3R berjumlah 10 orang yang telah dibekali pelatihan pemilahan sampah, keselamatan kerja, serta sistem pengangkutan. Selain itu, terdapat 10 local champion dari tiap RT yang bertugas mengedukasi warga agar memilah sampah sejak dari sumbernya.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menilai pembangunan TPS3R sebagai langkah strategis dalam menjaga kebersihan pulau kecil dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan. "Kami berharap TPS3R RUPIAH ini tidak hanya menjaga keindahan Pulau Derawan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan menjadi contoh bagi daerah lain," katanya.
Sementara itu, Kepala Kampung Pulau Derawan, Indra Mahardika, menegaskan bahwa fasilitas tersebut siap diresmikan dan dioperasikan dalam waktu dekat. Ia mengapresiasi keterlibatan masyarakat dan berbagai pihak dalam pembangunan serta pengelolaan TPS3R.
Direktur Program Kelautan dan Perikanan Yayasan WWF Indonesia, Candhika Yusuf, menjelaskan bahwa pembangunan TPS3R merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, termasuk jaringan WWF dan mitra korporasi internasional. Menurutnya, inisiatif ini diharapkan menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan di pulau-pulau kecil dan mengurangi dampak pariwisata terhadap satwa laut.
TPS3R "RUPIAH" akan mengelola sampah anorganik dari hotel, penginapan, dan rumah tangga. Sampah yang telah dipilah akan dikelompokkan lebih detail, seperti botol plastik dan kaleng, lalu dikirim untuk dijual ke pasar luar pulau. Adapun sampah organik diupayakan dikelola mandiri oleh masyarakat guna mencegah penumpukan di fasilitas tersebut.
Meski demikian, pengelolaan sampah di pulau kecil menghadapi tantangan tersendiri, seperti keterbatasan lahan, kebutuhan listrik untuk proses pengepresan, serta biaya pengiriman sampah antarpulau. Karena itu, kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra dinilai menjadi kunci keberhasilan program ini.
Dengan hadirnya TPS3R "RUPIAH", masyarakat Pulau Derawan diharapkan mampu mengelola sampah secara lebih tertata sekaligus menjaga kelestarian laut dan keberlanjutan sektor pariwisata di kawasan tersebut.
Editor: Gokli
