BATAMTODAY.COM, Madinah - Petugas wanita itu langsung naik bus rombongan jemaah haji Indonesia, begitu bus itu berhenti di Sektor 1 Madinah. Kemudian dia melakukan pengecekan penumpang dan dokumen yang dibawa oleh staf syarikah. Tak berhenti sampai di situ, wanita energik itu pun menolong jemaah haji lansia turun dari bus, satu persatu.
Jika ada jemaah yang tidak kuat jalan, harus naik kursi roda, petugas ini langsung berkoordinasi dengan petugas lain Tusi (Tugas Fungsi) Lansia. Bahkan ada yang harus digendongnya, karena jemaah haji tersebut tidak mau digendong petugas laki-laki. Sampai semua jemaah haji turun dari bus dan masuk ke dalam hotel, petugas wanita itu baru berhenti bergerak. Senyumnya pun mengembang.
"Alhadulillah, rampung, semua jemaah sudah masuk hotel," katanya, lega.
Siapakah petugas wanita yang begitu sigap dan cekatan melayani jemaah haji Indonesia itu? Berikut ini catatan Pemimpin Redaksi BATAMTODAY.COM, Saibansah Dardani yang saat ini bertugas menjadi MCH (Media Center Haji) PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi 2026.
Nama petugas itu pendek saja, hanya satu kata. Alfiani. Tapi 'baterai' energinya, seperti baru dicas terus. Saya beruntung mengenal wanita tersebut saat kami sama-sama bertugas melayani jemaah haji Indonesia di Mina, Makkah.
"Yang saya lakukan saat naik ke dalam bus adalah mengucapkan selamat datang bagi para jamaah haji, serta menghimbau mereka agar menjaga keamanan serta melakukan pengumpulan paspor dan menyerahkannya paspor kepada syarikah," tuturnya.
Entah sudah berapa bus yang dinaiki Alfiani untuk melayani para jemaah haji Indonesia. Baginya, melayani para jemaah haji Indonesia, apalagi yang lansia, banyak memberinya pengalaman rasa yang mendalam. Seperti teringat pada ibu dan ayahnya sendiri, saat menolong mereka.
"Saat melihat bapak ibu yang sudah lansia, saya selalu teringat dengan ibu dan ayah saya sendiri. Saya ingat sekali waktu kedatangan gelombang pertama dulu, tengah malam di hotel Grand Plaza Al Madinah, ada seorang nenek yang tidak kuat berdiri dan tak mau turun dari bus kalau digendong petugas laki-laki, tanpa berpikir panjang lagi nenek itu langsung saya gendong turun bus sampai ke depan lobby hotel," tutur alumni Universitas Mercu Buana Jakarta.
Memang, 'baterai' energi Alfiani seperti terus dicas, tak ada nampak lelah di wajahnya. Buktinya, saat pemulangan perdana rombongan jemaah haji Indonesia gelombang kedua dari Sektor 1 Madinah menuju Tanah Air, Senin 15 Juni 2026 malam waktu Arab Saudi.
Sejatinya, pergerakan jemaah dan kopernya, juga rentengan kalung boneka unta di leher mereka, sudah dimulai sejak selesai sholat ashar. Tetapi, karena harus antre turun lift dengan jemaah haji dari negara lain, maka pergerakan jemaah haji Indonesia pun sedikit tersendat. Ditambah lagi, ada beberapa jemaah yang tidak teliti naik bus. Sehingga harus bergeser ke bus lain, sesuai dengan nomornya.
Nah, pergerakan jemaah haji Kloter KJT 21 asal Jawa Barat yang salah naik bus itu pun membuat Alfiani harus bergerak dari satu bus ke bus lain. Ibu dua orang putri itu pun sampai harus berlari mengantarkan jemaah tersebut ke bus yang sesuai nomornya. Karena jika manifest penumpang bus tidak sesuai, maka pihak syarikah tidak akan menggerakkan bus-bus yang berjumlah puluhan itu.
"Tadi jemaahnya salah naik bus," ujarnya, seusai seluruh bus bergerak meninggalkan kenangan mendalam bersama para petugas haji Sektor 1 Madinah.
Bahkan, saat melepas rombongan bus bergerak menuju Bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah, sebagian petugas haji tak kuasa menahan air mata mereka. Mungkin mereka terharu, karena telah selesai menunaikan satu tugas melepas kepulangan jemaah haji Indonesia ke Tanah Air. Berkumpul kembali dengan sanak keluarga mereka.
"Kemarin di pintu 336, ada jamaah haji yang lari lari ngejar saya, memanggil mbak, mbaaaak, akhirnya ketemu lagi," tutur wanita yang sehari hari bertugas di Mabes Polri itu.
"Ada apa jemaah itu sampai mengejar mbak Alfiani?"
Ternyata, jemaah itu perempuan itu pernah ditolong Alfiani saat melaksanakan tugsa jamarat di Mina.
"Saya yang mbak tolong di jamarat," ujar wanita berpangkat Brigadir itu menirukan jemaah tadi. Lalu jemaah perempuan tadi pun memeluk Alfiani di halaman Masjid Nabawi.
Alfiani menolong jemaah tersebut di Mina, lalu dipeluk di Madinah.
"Masya Allah, senang sekali ya pak dengar kayak gitu," ungkap wanita kelahiran Jakarta 21 Desember 1995 itu penuh haru dan syukur.
Ternyata, kebahagiaan seorang petugas haji itu sederhana. Hanya dengan ucapan terimakasih dan ekspresi jujur-ikhlas, telah menjadi 'hadiah' terindah bagi seorang Alfiani. Mungkin ini akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Alfiani. Pengalaman yang akan terus dikenang selamanya.
"Saya hanya memberikan pelayanan terbaik saja, jangan sampe keberadaan saya di sini malah gak berguna," kata Alfiani mengakhiri perbincangannya.
Editor: Gokli
