logo batamtoday
Rabu, 17 Juni 2026
PKP BATAM


PGS Bidik Pendapatan Rp78,57 Miliar pada 2026, Siapkan Tiga Proyek Baru di Batam
Selasa, 16-06-2026 | 12:48 WIB | Penulis: Aldy Daeng
 
Manajemen PT Puri Global Sukses (PGS) Tbk saat public expose yang berlangsung di kantor PT PGS, kawasan Pasir Putih, Bengkong, Batam, Senin (15/6/2026). (Foto: Aldy/BTD)  

BATAMTODAY.COM, Batam - PT Puri Global Sukses (PGS) Tbk menargetkan pendapatan sebesar Rp78,57 miliar pada tahun 2026. Target tersebut meningkat sekitar 47,63 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya, seiring rencana penyelesaian dan serah terima sejumlah unit proyek yang tengah dikembangkan.

Hal itu disampaikan manajemen perusahaan dalam kegiatan Public Expose yang berlangsung di kantor PT PGS, kawasan Pasir Putih, Bengkong, Batam, Senin (15/6/2026).

Secretary Corporate PT PGS, Jessica, menjelaskan perseroan juga membidik laba bersih sebesar Rp3,98 miliar pada tahun 2026, setelah sebelumnya mencatatkan kerugian.

"Seiring rencana penyelesaian penyerahan unit, perseroan menargetkan pendapatan tahun 2026 sebesar Rp78,57 miliar atau meningkat sekitar 47,63 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Selain itu, laba bersih tahun 2026 ditargetkan mencapai Rp3,98 miliar," ujar Jessica.

Menurutnya, peningkatan kinerja tersebut diproyeksikan berasal dari kontribusi penjualan apartemen Monde City yang saat ini menjadi salah satu proyek andalan perusahaan.

Untuk mendukung pertumbuhan bisnis, PGS telah menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari mendorong pertumbuhan usaha berkelanjutan, pengembangan rantai pasok (supply chain), hingga pengelolaan aset dan struktur permodalan yang lebih efisien.

Pada 2026, perseroan juga menyiapkan tiga proyek utama dengan total nilai investasi mencapai Rp880 miliar. Proyek tersebut meliputi The Monde City Phase 2 senilai Rp280 miliar dengan pengembangan 120 unit, Monde Raffle Business District senilai Rp100 miliar yang mencakup pembangunan 46 blok ruko, serta Tembesi Residence dengan nilai investasi Rp500 miliar di atas lahan seluas 10 hektare.

Manajemen menilai keterbatasan lahan, khususnya di kawasan strategis Batam, masih menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan bisnis properti. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh terbatasnya area yang dapat dimanfaatkan karena sebagian wilayah Batam merupakan kawasan hutan lindung.

Meski demikian, sepanjang 2025 perusahaan mengaku tidak menghadapi kendala signifikan yang berdampak terhadap operasional usaha.

Dari sisi pendanaan, perusahaan masih mengandalkan kombinasi pembiayaan melalui utang bank jangka pendek dan modal sendiri, dengan tetap mempertimbangkan efisiensi biaya modal.

Finance Advisor PT PGS, Ardi, mengatakan hingga saat ini perusahaan masih fokus mengembangkan sektor perumahan, ruko, apartemen, dan lahan. Sementara rencana ekspansi ke sektor perhotelan masih dalam tahap kajian.

"Untuk rencana mendirikan hotel, kami masih mempelajari aspek penyerapannya di pasar. Jika memungkinkan, tidak menutup kemungkinan akan menjadi bagian dari rencana pengembangan ke depan. Namun saat ini fokus kami masih pada pembangunan rumah, ruko, apartemen dan pengembangan lahan," kata Ardi.

Sementara itu, alokasi belanja modal (capex) tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp77,52 miliar. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan anggaran capex tahun 2025 yang mencapai Rp101,1 miliar dengan realisasi sebesar Rp100,56 miliar.

Manajemen menjelaskan penurunan kebutuhan capex terjadi karena sebagian besar proyek yang sedang berjalan telah memasuki tahap penyelesaian sehingga tidak lagi membutuhkan investasi besar seperti pada fase awal pembangunan.

Hingga pertengahan 2026, realisasi penggunaan capex telah mencapai sekitar Rp28 miliar atau 36,71 persen dari total anggaran yang tersedia. Dana tersebut digunakan untuk mendukung penyelesaian proyek berjalan dan pengembangan sejumlah kawasan prioritas perusahaan.

Dalam sesi diskusi, Kepala Legal PT PGS, Fajar, menyebut perubahan regulasi, proses birokrasi dan perizinan, serta kondisi perekonomian menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati pelaku industri properti.

"Kita juga melihat perkembangan kondisi ekonomi saat ini karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap prospek usaha ke depan," ujar Fajar.

Selain faktor ekonomi, keterbatasan lahan di lokasi strategis juga menjadi tantangan tersendiri bagi pengembang properti di Batam.

Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, PGS optimistis mampu bersaing melalui keunggulan lokasi dan konsep pengembangan yang diusung perusahaan.

Jessica menjelaskan seluruh proyek yang dikembangkan perseroan berada di kawasan strategis yang dekat dengan pusat pemerintahan, pusat perbelanjaan, serta permukiman yang telah berkembang.

"Seluruh proyek yang kami kembangkan, baik perumahan, apartemen maupun ruko, berada di lokasi strategis dan dekat dengan berbagai pusat aktivitas masyarakat. Selain itu, kami mengusung konsep lifestyle living yang mengintegrasikan hunian, area komersial, dan fasilitas pendukung dalam satu kawasan," jelas Jessica.

Menurutnya, konsep pengembangan terpadu tersebut tidak hanya memberikan kenyamanan bagi penghuni, tetapi juga menawarkan potensi investasi yang menarik bagi konsumen maupun investor.

"Keunggulan lokasi, konsep pengembangan terpadu, serta tingginya kebutuhan pasar menjadi faktor yang kami yakini dapat meningkatkan nilai investasi bagi konsumen maupun investor," pungkasnya.

Editor: Gokli

Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© 2026 BATAMTODAY.COM All Right Reserved
powered by: 2digit