logo batamtoday
Jum'at, 05 Juni 2026
PKP BATAM


Warga Huntara Agam Bertahan di Tengah Bantuan Terhenti, Anak-anak Konsumsi Kental Manis Pengganti Susu
Kamis, 04-06-2026 | 09:48 WIB | Penulis: Redaksi
 
Kondisi Hunian Sementara (Huntara) Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. (Istimewa)  

BATAMTODAY.COM, Agam - Lima bulan setelah banjir bandang menerjang Kabupaten Agam, Sumatra Barat, ratusan warga yang tinggal di Hunian Sementara (Huntara) Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, masih menghadapi berbagai kesulitan. Selain kondisi tempat tinggal yang belum memadai, warga kini harus berjuang menghadapi tekanan ekonomi setelah bantuan sosial pemerintah berhenti disalurkan pascalebaran.

Sebanyak 113 kepala keluarga (KK) saat ini menghuni kompleks Huntara Padang Gamping. Bangunan yang ditempati warga dinilai masih jauh dari layak. Saat cuaca panas, ruangan menjadi pengap dan bersuhu tinggi. Sebaliknya, ketika hujan disertai angin kencang, air kerap masuk melalui celah atap yang tidak tertutup rapat hingga membasahi bagian dalam rumah.

Kondisi tersebut semakin diperburuk oleh terhentinya bantuan sosial serta hilangnya sumber penghasilan masyarakat. Mayoritas warga sebelumnya menggantungkan hidup pada sektor perkebunan kelapa sawit yang rusak akibat banjir besar pada akhir 2025.

Kerusakan lahan dan fasilitas perkebunan membuat sebagian besar warga kehilangan pekerjaan. Hanya segelintir keluarga yang masih memiliki kebun sawit yang dapat dikelola untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah keterbatasan ekonomi, persoalan baru mulai muncul, terutama terkait pemenuhan gizi anak-anak. Sejumlah keluarga mengaku terpaksa memberikan susu kental manis kepada anak-anak mereka sebagai pengganti susu karena keterbatasan kemampuan membeli susu bubuk.

Salah seorang penghuni huntara, Vici, mengaku masih mengandalkan bantuan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia mengatakan susu kental manis yang diterimanya kini menjadi konsumsi harian anaknya yang berusia lima tahun.

Menurut Vici, dirinya memahami bahwa susu kental manis bukan pilihan ideal untuk mendukung tumbuh kembang anak. Namun kondisi ekonomi yang sulit membuatnya tidak memiliki banyak alternatif.

Kesulitan serupa juga dirasakan Eti, warga huntara yang sekaligus mengajar di sekolah darurat setempat. Ia menuturkan kondisi bangunan huntara sangat tidak nyaman untuk ditempati.

Pada siang hari, suhu di dalam ruangan terasa sangat panas akibat material bangunan yang didominasi dinding GRC dan atap spandek. Sementara saat hujan turun disertai angin kencang, air masuk melalui celah atap sehingga kasur dan pakaian anak-anak sering kali basah.

Meski demikian, Eti mengaku bersyukur karena setiap unit huntara telah dilengkapi fasilitas kamar mandi dan pasokan air bersih yang memadai. Untuk mengatur ruang yang terbatas, ia menggunakan lemari dan rak sebagai sekat sederhana di dalam rumah.

Sebagian perabot rumah tangga yang dimilikinya diperoleh dari bantuan pemerintah dan dukungan keluarga. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk membeli kebutuhan dasar, termasuk kompor dan kulkas guna menyimpan bahan makanan.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Agam, Villa Erdi, mengakui bahwa masyarakat yang masih tinggal di huntara membutuhkan perhatian lebih. Menurutnya, pemerintah daerah terus berupaya mempercepat proses relokasi warga ke hunian tetap (huntap).

Ia menjelaskan bahwa huntara hanya bersifat sementara sehingga warga tidak dapat tinggal terlalu lama di lokasi tersebut. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Agam masih melakukan koordinasi terkait penentuan lokasi hunian tetap bagi warga terdampak banjir di Salareh Aia.

Pemerintah berharap proses penetapan lokasi dan pembangunan huntap dapat segera terealisasi agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan yang lebih layak dan aman setelah terdampak bencana.

Editor: Gokli

Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© 2026 BATAMTODAY.COM All Right Reserved
powered by: 2digit