BATAMTODAY.COM, Agam - Masa pemulihan pascabencana tak hanya soal perbaikan fisik, tetapi juga menyisakan persoalan pada pola konsumsi masyarakat. Salah satunya penggunaan kental manis yang kerap dijadikan pengganti susu bagi anak, yang berisiko memicu masalah gizi hingga stunting.
Kondisi ini menjadi perhatian Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (PP) 'Aisyiyah bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI). Keduanya turun langsung ke Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Jumat (1/5/2026), untuk memberikan edukasi gizi seimbang sekaligus layanan trauma healing bagi warga terdampak.
Sekjen YAICI, Satria Yudistira, menyebut perempuan dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap kesalahan pola makan pascabencana. Ia menyoroti masih banyaknya bantuan berupa kental manis yang dianggap sebagai susu, padahal tidak memenuhi kebutuhan gizi anak.
"Kental manis mengandung sekitar 40 hingga 50 persen gula, sementara proteinnya hanya 7 sampai 10 persen. Produk ini bukan untuk sumber gizi anak," tegasnya.
Menurut Satria, pihaknya bersama Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah terus melakukan edukasi agar masyarakat tidak menjadikan kental manis sebagai minuman susu harian.
Hal senada disampaikan Ketua Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Chairunnisa. Ia mengingatkan bantuan makanan instan saat tanggap darurat tidak boleh berubah menjadi kebiasaan jangka panjang.
"Dalam kondisi darurat, bantuan memang didominasi makanan instan, termasuk kental manis yang kerap disalahartikan sebagai susu. Jika ini berlanjut, terutama pada anak di bawah dua tahun, berpotensi menyebabkan stunting akibat kekurangan gizi kronis," jelasnya.
Program edukasi ini merupakan bagian dari kegiatan nasional yang dilaksanakan di tiga provinsi, yakni Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Selain fokus pada perbaikan gizi, kegiatan juga menyasar pemulihan kondisi psikologis masyarakat terdampak bencana.
Camat Palembayan, Endrisasman, mengatakan trauma masih dirasakan warga, khususnya anak-anak.
"Sebagian anak masih takut saat hujan turun, bahkan ada yang enggan kembali ke rumah. Kami sangat terbantu dengan adanya trauma healing ini," ujarnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan orang tua balita, tidak hanya pulih secara fisik, tetapi juga memahami pentingnya gizi seimbang guna mencegah stunting di kemudian hari.
Editor: Gokli
