logo batamtoday
Senin, 04 Mei 2026
PKP BATAM


Aksi Jurnalis Batam di Hari Kebebasan Pers 2026, Soroti Intimidasi dan Tekanan terhadap Media
Senin, 04-05-2026 | 15:28 WIB | Penulis: Aldy
 
Puluhan jurnalis menggelar aksi damai disertai teatrikal di depan kantor DPRD dan Pemerintah Kota Batam, bertepatan dengan peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026, pada Senin (4/5/2026). (Foto: Aldy)  

BATAMTODAY.COM, Batam - Puluhan jurnalis menggelar aksi damai disertai teatrikal di depan kantor DPRD dan Pemerintah Kota di Batam, Senin (4/5/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026. Aksi ini tidak sekadar seremoni tahunan, melainkan menjadi kritik terbuka terhadap dugaan praktik intimidasi dan tekanan terhadap kerja jurnalistik.

Aksi tersebut melibatkan sejumlah organisasi pers, antara lain Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Ikatan Wartawan Online (IWO), bersama jurnalis independen dan elemen masyarakat sipil.

Massa menampilkan aksi teatrikal yang menggambarkan seorang kepala daerah berdiri di depan, sementara seorang wartawan di belakangnya dengan tangan terikat dan mulut dilakban. Visual tersebut menjadi simbol kuat kritik terhadap praktik pembungkaman media dan sikap anti-kritik yang dinilai masih terjadi di ruang publik.

Koordinator lapangan aksi, Yogi Eka Syahputra, menegaskan bahwa kekerasan terhadap jurnalis belum berhenti. "Kami menuntut penghentian segala bentuk intimidasi, baik fisik maupun nonfisik, termasuk intervensi terhadap isi pemberitaan," ujarnya.

Ia menilai tekanan terhadap jurnalis kerap terjadi secara terselubung, namun berdampak serius terhadap independensi media. "Jika ini terus dibiarkan, yang dirugikan bukan hanya jurnalis, tetapi masyarakat yang kehilangan akses informasi objektif," katanya.

Selain isu perlindungan, massa juga menyoroti rendahnya kesejahteraan jurnalis. Mereka mendesak perusahaan pers memenuhi standar upah layak sebagai bagian dari upaya menjaga profesionalisme.

"Kesejahteraan jurnalis berbanding lurus dengan kualitas demokrasi," tambah Yogi.

Aksi tersebut juga menolak segala bentuk penyensoran terhadap karya jurnalistik dan menegaskan pentingnya jaminan kebebasan berekspresi. Massa mengajak masyarakat untuk tidak takut menyampaikan pendapat sebagai hak konstitusional.

Ketua PWI Batam, Muhammad Khafi Anshary, menilai kebebasan pers di Indonesia masih menghadapi paradoks antara retorika dan realitas. "Kebebasan pers sering digaungkan, tetapi di lapangan tantangannya masih besar," ujarnya.

Ia menambahkan, jurnalis kerap menghadapi risiko tinggi saat mengungkap fakta. "Tidak jarang wartawan harus mempertaruhkan keselamatan demi menyampaikan kebenaran," katanya.

Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya menjunjung kode etik jurnalistik agar kebebasan pers tetap berjalan dalam koridor profesional.

Aksi ini menegaskan bahwa kebebasan pers belum sepenuhnya terjamin dalam praktik. Tanpa perlindungan nyata dan perbaikan ekosistem kerja media, kebebasan pers berpotensi berhenti sebagai jargon normatif tanpa implementasi konkret.

Editor: Gokli

Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© 2026 BATAMTODAY.COM All Right Reserved
powered by: 2digit