BATAMTODAY.COM, Batam - Struktur ekonomi Batam pada 2025 menunjukkan penguatan signifikan sebagai salah satu kota industri strategis di wilayah barat Indonesia. Data terbaru mencatat, sebanyak 83,82 persen perekonomian Batam ditopang oleh tiga sektor utama, yakni manufaktur, konstruksi, serta perdagangan dan reparasi kendaraan.
Kepala Badan Pengusahaan Batam, Amsakar Achmad, menyebut dominasi tersebut menegaskan peran Batam sebagai motor pertumbuhan industri nasional yang kian kompetitif di kawasan Asia Tenggara.
"Dominasi ini menegaskan posisi Batam sebagai salah satu motor pertumbuhan industri nasional yang semakin kompetitif di tingkat regional Asia Tenggara," ujarnya, Senin (30/3/2026).
Ia menjelaskan, sektor manufaktur menjadi kontributor terbesar dengan porsi 57,01 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 56,83 persen. Kenaikan ini mencerminkan kuatnya aktivitas industri pengolahan, khususnya pada sektor elektronik, galangan kapal (shipbuilding), serta industri berbasis ekspor lainnya.
Menurutnya, pertumbuhan sektor manufaktur tidak terlepas dari keunggulan geografis Batam yang berada di jalur perdagangan internasional dan berdekatan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Kondisi ini menjadikan Batam sebagai pusat produksi dan distribusi yang efisien bagi investor global.
Selain manufaktur, sektor konstruksi juga memberikan kontribusi signifikan sebesar 20,23 persen. Pertumbuhan sektor ini didorong oleh ekspansi kawasan industri, pembangunan properti, serta percepatan proyek infrastruktur yang terus berjalan. Aktivitas pembangunan tersebut menjadi indikator meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Batam.
Sementara itu, sektor perdagangan dan reparasi kendaraan menyumbang 6,58 persen terhadap total perekonomian. Meski porsinya lebih kecil, sektor ini berperan penting dalam mendukung distribusi barang, logistik, serta dinamika ekonomi regional.
"Secara keseluruhan, ketiga sektor tersebut membentuk struktur ekonomi dominan Batam dengan total kontribusi mencapai 83,82 persen. Hal ini menunjukkan tingkat konsentrasi ekonomi yang cukup tinggi pada sektor berbasis industri dan infrastruktur," tambah Amsakar.
Meski demikian, ketergantungan pada sektor tertentu dinilai menjadi tantangan tersendiri. Diversifikasi ekonomi dianggap penting agar Batam lebih tangguh menghadapi gejolak global, seperti fluktuasi permintaan ekspor maupun gangguan rantai pasok internasional.
"Ke depan, penguatan sektor jasa, ekonomi digital, serta industri kreatif dapat menjadi pelengkap struktur ekonomi Batam, sehingga pertumbuhan tidak hanya bertumpu pada sektor tradisional, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman," tegasnya.
Dengan tren pertumbuhan yang positif serta dukungan kebijakan yang tepat, Batam diyakini akan terus memperkuat posisinya sebagai kota industri unggulan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.
Editor: Gokli
