logo batamtoday
Rabu, 22 April 2026
PKP BATAM


Dari Dapur Rumahan hingga Buka Lapangan Kerja, Kisah Yanti Jadi Bukti Nyata Manfaat CSR BRK Syariah bagi UMKM di Bintan
Jumat, 06-02-2026 | 15:48 WIB | Penulis: Aldy Daeng
 
Julianti (51), yang akrab disapa Yanti, memulai perjalanan panjang membangun usaha rumahan yang kini berkembang menjadi kegiatan produktif yang melibatkan warga sekitar dan membuka peluang kerja baru. (Foto: Istimewa)  

BATAMTODAY.COM, Bintan - Dari dapur rumah sederhana di Kecamatan Bintan Timur, Julianti (51), yang akrab disapa Yanti, memulai perjalanan panjang membangun usaha demi menopang ekonomi keluarga. Bertahun-tahun kemudian, usaha rumahan tersebut berkembang menjadi kegiatan produktif yang melibatkan warga sekitar dan membuka peluang kerja baru.

Kisahnya menjadi gambaran nyata bagaimana program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) BRK Syariah mampu mendorong pertumbuhan UMKM sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di daerah.

Perjalanan usaha Yanti dimulai pada 2016, ketika kondisi ekonomi keluarga mengalami tekanan setelah suaminya menyelesaikan kontrak kerja tanpa kepastian pekerjaan tetap. Demi memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan dua anaknya, ia mencoba berbagai usaha rumahan, mulai dari kerajinan tangan hingga mengolah ubi menjadi kue.

Setiap malam, Yanti memproduksi bolu ubi sejak pukul 21.00 hingga dini hari, lalu menitipkannya di warung sekitar. Namun, usaha tersebut hanya bertahan sekitar satu tahun karena keuntungan yang terbatas. Kegagalan itu tidak membuatnya menyerah. Ia terus mencari peluang usaha yang lebih berkelanjutan.

Semangat kebersamaan kemudian mendorong Yanti mengajak sepuluh ibu di lingkungannya --sebagian besar orangtua tunggal-- membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Mereka memilih memproduksi keripik tempe, meski harus melalui proses panjang dan penuh tantangan. Selama hampir satu tahun, berbagai percobaan dilakukan hingga akhirnya mereka berhasil menghasilkan irisan tempe yang tipis dan konsisten.

"Setelah satu tahun mencoba, barulah kami bisa mengiris tempe dengan baik," ujar Yanti.

Kerja keras tersebut mulai membuahkan hasil pada 2022. Keripik tempe produksi kelompoknya berhasil menembus pasar setelah mengantongi sertifikat halal dan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Pemasaran dilakukan secara bertahap melalui organisasi, kegiatan PKK, hingga arisan, sebelum akhirnya masuk gerai D’Sayur dengan harga Rp 14.000 per kemasan untuk varian original.

Permintaan pasar terus meningkat, bahkan pernah mencapai pesanan hingga 75 kilogram. Namun, keterbatasan bahan baku membuat sebagian permintaan belum dapat terpenuhi. Untuk mengantisipasi lonjakan pesanan, terutama menjelang hari raya, kelompok usaha kini menerapkan sistem pemesanan awal.

Di tengah aktivitas produksi, Yanti memiliki kebiasaan yang memberinya ketenangan. "Saya sambil mengiris tempe selalu bershalawat," katanya.

Seiring perkembangan usaha, kelompoknya juga mulai memanfaatkan pembayaran digital melalui QRIS untuk memudahkan transaksi.

Selain mengelola usaha keripik tempe, Yanti menjabat sebagai Ketua Kelompok UP2K Seraiwangi di Kecamatan Bintan Timur. Bersama anggotanya, ia memproduksi beragam olahan makanan, mulai dari kue kering, kerupuk, rengginang, peyek, bolu, donat, hingga produk khas Kepulauan Riau seperti gonggong rebus dan telur cumi asin.

Perkembangan usaha semakin signifikan setelah kelompok UP2K menerima bantuan alat produksi dari program CSR BRK Syariah pada Desember 2025 senilai sekitar Rp 42 juta. Bantuan tersebut meliputi oven, alat pengiris tempe multifungsi, kukusan besar, penggiling daging, serta mesin pengadon donat.

"Rasanya seperti dapat harta karun. Senang sekali, bahkan anggota-anggota saya sampai hampir menangis karena terharu," tutur Yanti.

Sejak menerima bantuan, kapasitas produksi meningkat pesat. Produksi keripik tempe kini mencapai sekitar 2,7 kilogram per hari. Proses yang sebelumnya dilakukan secara manual menjadi lebih efisien, terutama saat menghadapi lonjakan permintaan pada momen hari besar. Dampaknya, usaha tersebut mampu membuka peluang kerja baru bagi warga sekitar.

"Prinsip saya sejak awal, usaha ini harus bisa membawa orang lain ikut bekerja dan punya penghasilan tambahan untuk keluarganya," kata Yanti.

Ia menilai bantuan berupa peralatan produksi sangat tepat sasaran karena langsung menjawab kebutuhan kelompok usaha. "Sebelumnya kami terbatas karena semua dikerjakan manual. Sekarang produksi meningkat dan pekerjaan jadi lebih ringan," ujarnya.

Branch Manager BRK Syariah Bintan, Imam Hadi Suryono, menjelaskan bahwa bantuan alat produksi merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam memberdayakan UMKM. Program CSR tersebut telah berjalan sejak 2024 melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menjangkau pelaku usaha yang membutuhkan dukungan nonfinansial maupun finansial.

"Kami melihat UMKM sebagai tulang punggung perekonomian daerah. Melalui CSR dan sinergi dengan pemerintah, kami ingin menguatkan ekosistem usaha masyarakat agar terus tumbuh dan berdaya saing," kata Imam.

Bagi Yanti dan anggota UP2K Seraiwangi, bantuan CSR BRK Syariah bukan sekadar tambahan peralatan produksi, melainkan pengakuan atas perjalanan panjang yang dimulai dari dapur rumah dengan kesabaran dan semangat untuk bangkit bersama. Kisah mereka menjadi bukti bahwa program CSR yang tepat sasaran mampu memperkuat UMKM, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Bintan.

Editor: Gokli

Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© 2026 BATAMTODAY.COM All Right Reserved
powered by: 2digit