Oleh Arief Poyuono
SETIAP KALI NATAL tiba, saya kembali diingatkan bahwa kisah ini bukan sekadar tentang gembala, malaikat, atau para majus. Inti Natal justru ada pada kerendahan hati Kristus --sebuah contoh kepemimpinan yang begitu radikal, bahkan hingga kini sulit kita temui.
Filipi 2:5-8 mengingatkan bahwa Yesus, yang memiliki hak penuh sebagai Allah, justru memilih untuk mengosongkan diri. Ia datang bukan sebagai penguasa yang menuntut hormat, tetapi sebagai manusia biasa --bahkan bayi yang sepenuhnya bergantung pada orang lain. Bayangkan saja: Sang Pencipta rela mengalami segala kerentanan manusia, termasuk hal-hal paling sederhana dan paling tidak glamor. Itu bukan sekadar tindakan spiritual; itu tindakan kepemimpinan yang nyata.
Mengapa harus sejauh itu? Karena hanya dengan mengidentifikasi diri dengan kita --dengan kelemahan dan pergumulan manusia-- Yesus dapat benar-benar melayani. Ibrani 4 menegaskan bahwa Ia mampu bersimpati dengan kita karena Ia hidup seperti kita. Kepemimpinan yang melayani memang menuntut kedekatan, bukan jarak. Pemimpin yang memilih menara gading tidak akan pernah memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan umatnya.
Kerendahan hati Yesus juga terlihat pada cara Ia memilih untuk lahir. Jika kisah ini kita tulis sendiri, mungkin kita akan menempatkan Sang Mesias di istana, dengan segala kemewahan dan pengamanan. Namun Allah memilih jalur yang berlawanan: lahir dari keluarga miskin, di tempat yang bahkan tidak layak disebut rumah. Dari titik awal yang sama sekali tidak prestisius itulah Yesus menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukan soal status, tetapi pelayanan.
Dalam Matius 20, Yesus menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah hak istimewa untuk memerintah, tetapi tanggung jawab untuk melayani. Prinsip ini mungkin terdengar indah, tetapi jelas tidak nyaman --bahkan bagi para pemimpin masa kini. Namun Natal sudah lebih dulu mencontohkannya: sebelum Yesus mengajarkan murid-murid-Nya tentang kerendahan hati, Ia sudah mempraktikkannya sejak Ia lahir.
Kehidupan-Nya yang sederhana, karya-Nya yang mengubah dunia, hingga kematian-Nya yang paling memalukan di kayu salib, semuanya memperlihatkan konsistensi satu hal: kepemimpinan yang sejati menempatkan orang lain di atas diri sendiri. Dan karena Ia bangkit, pelayanan-Nya bukan hanya teladan, tetapi sumber harapan bagi siapa pun yang mau mengikutinya.
Natal, bagi saya, bukan sekadar perayaan. Ini adalah panggilan. Jika Yesus saja memilih jalan kerendahan hati untuk melayani, mengapa kita --terutama para pemimpin-- masih begitu mudah terjatuh pada ego, status, dan kuasa?
Penulis adalah Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu Arief Poyuono
