MUSIM semi tiba. Musim pendakian dimulai. Begitu pula Krisna Diantha, Stefan dan Patrick. Tiga sekawan ini, sepakat memulai perjalanan panjang dari puncak Swiss Alpen yang satu ke puncak yang lainnya. Bagaimana kisah perjalanan koresponden BATAMTODAY.COM di Swiss, Krisna Diantha? Berikut catatannya.
Meski kami telah sepakat untuk mendaki, tapi ke mana puncak itu dituju, masih harus dipikirkan. April masih banyak sisa salju. Salah jalur, repot resikonya. Kalau nyawa tidak melayang, dan tentu saja juga uang. Siapa yang mau. Tidak ada. Tidak juga kami bertiga.
Sepekan silam, dua kali Rega, helikopter yang khusus menjelajahi tebing tebing Swiss Alpen, harus menjemput pendaki gunung di Rigi Hochflue, Swiss Tengah. Karena salju, mereka terjebak dalam posisi maju kena mundur kena. Maju tak mampu, mundur juga sami mawon. Satu satunya jalan, ya menelpon Rega. Tidak punya asuransi, akan sangat mahal ongkosnya. Untungnya, 90 % penduduk Swiss memiliki asuransi semacam ini.
Kami akhirnya sepakat mendaki dua pucuk Swiss Alpen. Buetzi dan Stockflue. Tidak tinggi, namun harus punya pengalaman di tebing yang curam. Buetzi hanya 917 m, Stockflue 1137 m. Dan ini yang penting, pendakian bisa dimulai selepas dhuhur. "Hanya sejam lebih dikit, sudah sampai," kata Patrick. Itung itung ya latihan.
Karena ada tebing tegak lurus, kira-kira 40 meteran, kami menyiapkan tali di rumah. Sandwich dan minuman tidak ketinggalan. Dan dari Wylen, desa terdekat, bismillah kami memulai pendakian pertama di musim ini.
Dari jauh, dua puncak Alpen ini, mirip sirip ikan hiu yang menyembul dari punggung gunung. Kami memulai dari sirip Buetzi. Jalanan mulai menanjak, ketika kami memasuki hutan sub tropis Eropa. Pepohonan mulai berdaun, hijau muda warnya. Bunga bunga liar juga mulai berkembang.
Kami sampai di Buetzi sesuai rencana. Tidak sulit, meski tetap ngos ngosan. Tapi untuk pemula, harus siap siap menggunakan tangan juga untuk sampai ke puncak Buetzi. Koran lokal menyebutnya sebagai pendakian dan krengkelan. Tak hanya kaki perlu kokoh, tapi juga tangan ikut bicara jika kami harus mulai memanjat.
Barulah ujian nyali dimulai ketika kami harus turun dari Buetzi. Tebing tegak lurus 40 meter itu terbagi dua. Kami menyiapkan tali, dan satu demi satu bergiliran meniti tebing dengan pengaman. "Pendaki profesional akan menertawakan kita," desis saya.
Tapi siapa mau jatuh. Tidak ada. Tidak juga kami. Biarlah ditertawakan, tapi selamat.
Tebing kedua lebih gampang. Karena dipasang jejakan dari besi. Kami memutuskan tidak lagi menggunakan tali. "Asal hati-hati ya ok," kata Stefan.
Kami bertiga berpandangan. Kalau jatuh, apa sudah ada surat wasiat. Minimal password facebook atau instagram sudah tertulis di buku rahasia. "Repot kalau mati, namun facebookmu tidak ada yang mematikannya," kata saya.
Kami meneruskan ke puncak kedua, Stockflue. Dalam bahasa setempat disebut Duume, si jempol. Banyak yang menyebut sirip ikan hiu, tapi penduduk lokal ternyata lebih suka menamainya si jempol.
Jalanan menanjak, melewati hutan pinus dan karang terjal, Sesekali kami harus memanjat 3 meteran. Tanpa tali, tanpa pengaman. Jatuh ya modar. Saya yang sudah pengalaman dengan pemanjatan semacam ini, tidak terlalu gemetar. Begitu juga yang lain. Sebelum puncak, ada ujian lain. Tebing curam namun ada pegangan. Hanya saja jalurnya sempit.
Perlahan namun pasti, kami lalui jalur ini. Dan selamat sampai puncak Stockflue, Duume atau si Jempol. Ada beberapa orang sudah disana. Pemandangannya memang bagus. Biru danau Lucerne, tertata rapinya desa Brunnen, serta tentu saja barisan pegunungan Alpen sejauh mata memandang.
Di sana, masih banyak puncak puncak Swiss Alpen lainnya, yang akan kami langkahi dalam musim kali ini. Salju masih banyak. Diatas 2000 meter, untuk sementara harus ditunda.
Mau tau, bagaimana keseruan pendakian puncak sirip hiu di Pegunungan Swiss Alpen itu? Klik : https://www.youtube.com/watch?v=BEd88y320g4&feature=youtu.be
Editor: Dardani
