BATAMTODAY.COM, Jakarta - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai kebijakan tarif nol persen yang diberikan Amerika Serikat (AS) terhadap produk tekstil dan pakaian jadi asal Indonesia akan sangat menguntungkan industri tekstil yang berorientasi ekspor.
"Industri tekstil yang berorientasi ekspor ke Amerika pasti akan diuntungkan. Pangsa pasar ekspor kita ke Amerika Serikat itu lebih dari 60 persen, sehingga kondisi akan lebih baik dengan adanya tarif nol," ujar Faisal saat dihubungi di Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan sekitar separuh produksi tekstil nasional ditujukan untuk ekspor, dengan mayoritas tujuan ke pasar AS.
Oleh karena itu, ia menilai kebijakan ini akan langsung memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.
Namun, Faisal menekankan bahwa manfaat tersebut hanya dirasakan oleh pelaku usaha yang menggantungkan penjualan ke AS.
"Kalau untuk yang tidak ekspor ke Amerika tetap tidak ada berubah Yang akan membantu mereka adalah kebijakan untuk mengendalikan produk impor dari China," katanya.
Menurutnya, lonjakan impor pakaian murah dari China pada 2025 telah menekan pasar dalam negeri dan mendorong sejumlah pabrik melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Banyak pabrik tutup karena pasar domestiknya tergerus oleh impor yang jauh lebih murah, terutama dari China," jelasnya.
Faisal menambahkan membanjirnya produk tekstil asal China ke Indonesia juga merupakan dampak lanjutan dari kebijakan tarif yang diterapkan Presiden AS Donald Trump terhadap produk China.
"Produk-produk China yang tidak masuk ke pasar Amerika tentu saja akan mencari jalan ke negara lain. Indonesia menjadi salah satu pasar yang paling mudah dimasuki karena hambatan perdagangannya relatif terbatas," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Faisal menilai kebijakan pengendalian impor menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan industri tekstil yang berorientasi pasar domestik, sementara tarif nol di Amerika Serikat akan menjadi angin segar bagi eksportir.
Pemerintah Indonesia dan AS menyepakati penghapusan tarif bea masuk 0 persen untuk produk tekstil dan garmen (apparel) asal Indonesia melalui skema kuota tertentu.
Kesepakatan tersebut diteken pemerintah Indonesia dan AS pada Kamis (19/2/2026) waktu Washington melalui mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ).
Skema ini memungkinkan volume tertentu impor tekstil dan garmen dari Indonesia masuk ke AS dengan tarif nol persen, dengan kuota ditentukan berdasarkan jumlah bahan baku tekstil yang diimpor Indonesia dari AS seperti kapas dan serat buatan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menyebut kebijakan ini akan memberikan manfaat bagi jutaan pekerja.
"Tentunya ini memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini, dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Jumat.
Selain tekstil dan garmen, terdapat 1.819 pos tarif produk Indonesia yang kini mendapatkan fasilitas pembebasan tarif hingga nol persen, meliputi minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, hingga komponen pesawat terbang.
Sumber: ANTARA
Editor: Yudha
