logo batamtoday
Rabu, 30 November 2022
Pasang Iklan


Kepala BP3MI Kepri Ungkap Faktor Penyebab CPMI Nekat Tempuh Jalur Ilegal ke Malaysia
Kamis, 24-11-2022 | 12:52 WIB | Penulis: Aldy
 
Kepala BP3MI Kepri, Kombes (Pol) Amingga M Primastito (tengah) saat konferensi pers di Mako Polairud Polda Kepri, Sekupang, Batam, Rabu (23/11/2022). (Foto: Aldy)  

BATAMTODAY.COM, Batam - Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) dari berbagai daerah masih saja nekat berangkat ke Malaysia, sekali pun itu harus menempuh jalur ilegal, yang harus dibayar mahal baik materi maupun nyawa.

Wilayah Provinsi Kepri, khusunya Batam dan Bintan, yang merupakan jalur transit para CPMI ilegal itu menuju Malaysia, acap kali dibuat heboh dengan kasus karamnya kapal pengangkut CPMI ilegal di laut. Sudah banyak CPMI ilegal yang hilang nyawa di laut, khususnya di perairan Batam, tetapi tak juga membuat para CPMI itu jera.

Kepala Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kepri, Kombes (Pol) Amingga M. Primastito, mengungkapkan, terdapat sejumlah faktor penyebab CPMI masih terus nekad menyebrang ke Malaysia, meski harus menempuh jalur ilegal.

"Alasan masyarakat untuk bekerja di luar negeri, salah satunya adalah memiliki gengsi tersendiri apabila bekerja di luar negri. Khusus di negara Malaysia, memang di sana banyak permintaan tenaga kerja, terlebih di kebun sawit, tenaga pemotong sawit dan rata-rata pekerja di sana saudara-saudara kita," kata Amingga, saat konferensi pers pengungkapan kasus karamnya CPMI ilegal di Perairan Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, beberapa waktu lalu di Mako Polairud Polda Kepri, Sekupang, Rabu (23/11/2022).

Selain itu, kata Amingga, banyaknya CPMI yang memilih jalur non prosedural untuk berangkat ke Malaysia, dikarenakan permasalahan administrasi di negara tujuan. Karena banyak di antara PMI yang ke Malaysia saat ini merupakan PMI yang mendapatkan pemulangan paksa dari Malaysia.

"Saat pandemi Covid-19 lalu, itu ada ribuan PMI yang dipulangkan, rata-rata dari mereka di-blacklist selama 5 - 7 tahun tidak bisa masuk Malaysia. Itu kebijakan dari negara sana," terang Amingga.

Dengan alasan tersebut, tidak sedikit oknum yang memanfaatkan situasi untuk menjadi agen penyalur bagi mantan PMI untuk berangkat lagi ke Malaysia melalui jalur non prosedural. Bahkan, tidak sedikit dari mantan PMI itu sendiri yang melakoni perbuatan terlarang itu.

"Penyalur PMI non prosedural ini menjanjikan pekerjaan di Malaysia. Ada juga yang masuk ke sana bekerja secara mandiri, bahkan ada yang masuk hanya untuk berkumpul dengan keluarganya yang berada di Malaysia," sambung Amingga.

Untuk itu, Amingga berharap, kepada daerah sebagai kantung PMI, atau daerah-daerah kebanyakan PMI berasal, kiranya pemerintah daerah tersebut bisa memberikan pengertian kepada masyarakatnya sebelum berangkat menjadi tenaga kerja di luar negeri. Pasalnya, Provinsi Kepri dan Batam khususnya, hanya merupakan daerah transit.

"Atau boleh dibilang, sebagian besar yang berangkat ke Malaysia secara non prosedural itu bukan masyarakat Kepri. Kadang juga kita miris, karena agen penyalur ini sama daerah asalnya dengan para CPMI non prosedural. Kami juga sudah menjalan komunikasi dengan pemerintah daerah, seperti Lombok, Aceh dan beberapa dan daerah lainnya, karena kita ini hanya daerah transit," pungkas Amingga.

Editor: Gokli

Asia Link
Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© Copyright 2022 batamtoday.com All Right Reserved
powered by: 2digit