logo batamtoday
Senin, 26 September 2022
Pasang Iklan


Kadis Kesehatan Kota Tanjungpinang Minta Warga Waspadai Frambusia
Kamis, 22-09-2022 | 11:40 WIB | Penulis: Devi Handiani
 
Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang, dr Elfiani Sandri. (Dok/BTD)  

BATAMTODAY.COM , Tanjungpinang - Frambusia adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri berbentuk spiral (spirochete) yang dikenal sebagai treponema pertenue.

Frambusia biasanya ditularkan melalui kontak langsung dengan luka kulit yang terinfeksi dari individu yang terkena. Dalam beberapa kasus, frambusia dapat ditularkan melalui gigitan serangga yang terinfeksi.

Sebagian besar kasus frambusia terjadi pada anak-anak, di mana mereka menularkan bakteri saat bermain. Selain membuat anak kecil sakit, sekitar 10% anak yang tidak diobati berkembang menjadi dewasa muda dengan kelainan bentuk yang sangat melemahkan pada fase tersier-frambusia.

Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang, dr Elfiani Sandri, menjelaskan, frambusia adalah penyakit kulit yang penularannya lewat kontak langsung dan juga ketika kurang menjaga hygiene bisa terjadi.

"Kenapa ini menjadi perhatian, karena bisa menyebabkan kecacatan bahkan bisa menyerang tulang. Artinya, bisa menggangu pertumbuhan anak. Yang menjadi sasaran itu adalah anak-anak yang 15 tahun ke bawah. Kita dalam rangka menciptakan generasi yang berkualitas ke depannya segala penyakit yang sangat rentan terhadap anak harus kita lakukan pencegahan," jelas Sandri, Kamis (22/09/2022).

Ia menambahkan, untuk Kemenkes memiliki target tahun 2024 nanti Indonesia bebas dari frambusia. Sedangkan Tanjungpinang sendiri, tahun 2022 dinyatakan bebas dari frambusia. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Kemenkes RI sendiri.

"Mereka yang datang ke daerah-daerah menilai sudah bisa ditetapkan sebagai daerah kabupaten/kota yang bebas frambusia. Syaratnya daerah tersebut tidak pernah ada kasus frambusia, kemudian dalam enam bulan berturut-turut tidak terjadi kasus baru," ujar Sandri.

"Tanjungpinang sendiri, sejak tahun 2012 hingga 2021, tidak pernah menemukan kasus frambusia. Tapi tetap kita harus melakukan deteksi dini di sarana kesehatan supaya waspada ketika ada yang mengarah kesana langsung cepat dilakukan pemeriksaan itu yang kita lakukan saat ini," tambahnya.

Sandri berharap kepada seluruh lapisan masyarakat penyakit seperti ini wajib dipahami bersama jika ada menemukan atau dicurigai segera ke Puskesmas atau rumah sakit, sehingga tim Dinas Kesehatan akan melakukan pemeriksaan laboratorium.

Adapun ciri-ciri penyakit frambusia, patek atau puru (bahasa inggris: yaws) adalah infeksi tropis pada kulit, tulang dan sendi yang disebabkan oleh bakteri spiroket treponema pallidum pertenue.

Penyakit ini berawal dari pembengkakan keras dan bundar pada kulit, dengan diameter 2 sampai 5 cm. Bagian tengah dari pembengkakan bisa pecah dan membentuk ulkus. Luka kulit awal ini biasanya sembuh setelah tiga sampai enam bulan.

Setelah beberapa minggu sampai beberapa tahun, sendi dan tulang dapat terasa sakit, kelelahan dapat berkembang, dan luka kulit baru mungkin muncul. Kulit telapak tangan dan telapak kaki dapat menjadi tebal dan membuka. Tulang (terutama pada hidung) dapat berubah bentuk. Setelah lima tahun atau lebih, daerah yang luas dari kulit bisa mati, meninggalkan bekas luka.

Editor: Gokli

Asia Link
Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© Copyright 2022 batamtoday.com All Right Reserved
powered by: 2digit