logo batamtoday
Kamis, 24 September 2020
Pasang Iklan


Ledakan Beirut, Kisah Suram Kapal Kargo MV Rhosus yang Terbengkalai dan Kesepakatan Amburadul
Kamis, 06-08-2020 | 13:53 WIB | Penulis: Redaksi
 
Foto Kenangan Kapal Rhosus yang kini menyita perhatian seluruh dunia setelah ledekakkan di Beirut. (Foto: Ist)  

BATAMTODAY.COM, Beirut - Semua orang kini memfokuskan perhatiannya kepada kapal asing yang belakangan dikaitkan dengan tragedi ledakan maut yang menghancurkan pelabuhan Beirut dan sebagian Ibu Kota Lebanon.

Disebut-sebut kecelakaan itu adalah akibat kesalahan penanganan kargo amonium nitrat yang disita dari kapal berbendera Moldova, MV Rhosus yang ditahan di Lebanon.

Ledakan itu menyebabkan setidaknya 135 orang tewas dan lebih dari 5.000 luka-luka, menyebabkan kerusakan berat di Beirut. Bagaimana simpanan bahan berbahaya sebesar itu bisa berada di Pelabuhan Beirut?

Kapal Rhosus berbendera Moldova terperangkap di labirin yang hanya dapat dilalui oleh orang-orang yang paham cara-cara Lebanon pasca perang. Rhosus telah disita oleh otoritas Pelabuhan Lebanon pada 2013, tepat setahun setelah Rhosus dibeli oleh Teto Shipping.

Teto Shipping adalah sebuah perusahaan yang terdaftar di Kepulauan Marshall dan dimiliki oleh seorang pengusaha kelahiran Rusia, Igor Grechushkin. Perusahaan itu sendiri dibentuk pada tahun yang sama dan Rhosus tampaknya merupakan satu-satunya kapal milik Teto Shipping.

Menurut Dewan Pertahanan Tertinggi Lebanon, kapal tersebut memasuki pelabuhan Beirut pada September 2013 karena kesulitan teknis. Ketika melewati pemeriksaan ditemukan bahwa kapal itu berisi ribuan ton amonium nitrat.

Maka Rhosus pun dilarang melanjutkan pelayaran dan kargonya, ribuan ton amonium nitrat pun disita. Ternyata, MV Rhosus adalah kapal yang tidak layak untuk berlayar. Para awaknya terdiri dari warga Ukraina dan Rusia.

Di forum-forum berbahasa Rusia yang berasal dari 2012 melukiskan gambaran kondisi kerja yang mengerikan di MV Rhosus sejak saat mereka mengambil pekerjaan itu.
Fasilitas minim, Tidak ada ruang pendingin untuk makanan, kondisi kapal yang suram dan buruk, gaji yang sangat rendah, dan malahan sering menunggak. Banyak yang menyarankan untuk menghindari kontrak dengan Teto Shipping.

Kapal itu memiliki banyak masalah teknis, termasuk radar yang tidak berfungsi dan masalah dengan mesin utamanya. Seorang saksi mantan pekerja di kapal itu, Semyon Nikolenko, mengatakan pemilik Rhosus, Igor Nikolenko sangat licik, tidak mau memfasilitasi para pekerja dan tidak membayar upah tepat waktu.

"Itu adalah kontrak pertama saya, pengalaman (berlayar) pertama saya, dan yang pahit," kata Nikolenko, yang sekarang tinggal di Krimea, kepada RT. Pada 2013, MV Rhosus mengambil 2.750 ton amonium nitrat di pelabuhan Batumi di Georgia untuk dikirimkan ke Mozambik.

Kapal yang memang tidak layak itu akhirnya tidak pernah mencapai tujuannya karena masalah teknis. Kapal pun ditahan di Pelabuhan Beirut, Lebanon, sesuai perintah tim pemeriksa dari Port State Control.

Pada 2015 hukum yang dibuat oleh firma hukum Lebanon Baroudi & Associates menunjukkan kapal mengalami bangkrut sehingga ditinggalkan oleh pemilik kapal. Sementara, Kapten Kapal Boris Prokoshev dan empat anggota awak lainnya ditahan di Beirut.

Menurut Boris, Rhosus ditahan oleh otoritas Lebanon karena gagal membayar biaya pelabuhan. Namun, dia yakin, itu adalah dugaan yang keliru. Ada lagi informasi bahwa sejumlah uang dibutuhkan ketika pergi ke area penyimpanan di pelabuhan Beirut.

Hangar 12, tempat penyimpanan bahan berbahaya, berada di samping bangunan lain tempat Bea Cukai menyimpan kargo komersial dan barang-barang pribadi orang yang telah mengirimkannya ke Lebanon.

Disebutkan, uang harus diserahkan ke faksi-faksi yang berbeda di antara birokrasi pelabuhan jika seseorang ingin mengambil barang-barang mereka. Jika perusahaan perantara digunakan, tagihannya diperinci sebagai biaya perangko, bea cukai dan bongkar muat.

Data pengiriman menunjukkan bahwa Rhosus berhenti di Beirut karena rusak dalam perjalanan dari Georgia ke Mozambik, dan telah berada di perairan ibu kota Lebanon sejak 2014. Dua pengirim barang di Beirut mengkonfirmasi tanggal dan rute Rhosus.

Jejak pembantaian yang diakibatkan muatannya, dan tuduhan perdagangan di antara para pejabat Lebanon adalah ciri khas dari transaksi suram yang telah menyelimuti perdagangan di Lebanon sejak perang saudara 45 tahun lalu, dikutip dari TN, Kamis (6/8/2020).

Pejabat Lebanon mengatakan kargo Rhosus 2.750 ton diturunkan dan disimpan di gudang selama bertahun-tahun sebelum memicu dan menghancurkan separuh kota Beirut. Amonium nitrat tiba sebagai kargo di Rhosus pada tahun 2014, Bloomberg melaporkan, mengutip dua surat yang dikeluarkan oleh direktur jenderal Bea Cukai Lebanon.

Untuk alasan yang tidak jelas, pekerja pelabuhan menurunkan bahan kimia, yang dapat digunakan untuk membuat pupuk dan bahan peledak, dan menyimpannya di gudang.

Menurut Baroudi & Associates, kargo berbahaya kapal dipindahkan ke fasilitas penyimpanan pelabuhan, dan ternyata tetap berada di sana selama bertahun-tahun.

Adapun nasib kapal bermasalah, yang terakhir terdaftar oleh pelacak Marinetraffic di pelabuhan Beirut dekat dengan pusat ledakan, mungkin tenggelam jauh sebelum pelabuhan dihancurkan oleh ledakan.

"Ada lubang kecil di lambung kapal. Kami harus memompa air dari waktu ke waktu. Tanpa kru, tidak ada yang bisa melakukan itu," kata kapten sebagaimana dilansir RT.

Kargo MV Rhosus menjadi permasalahan tersendiri bagi pejabat keamanan Lebanon, yang tahu mengenai bahaya dari tumpukan amonium nitrat dalam jumlah besar.

Mereka mengeluarkan perintah agar pejabat pelabuhan segera menyingkirkannya, beberapa bulan sebelum ledakan terjadi, sayangnya hal itu tidak dilakukan.

Pihak berwenang Lebanon telah menahan sejumlah pejabat pelabuhan menyusul ledakan pada Selasa (4/8/2020).

Presiden Michael Aoun dan Perdana Menteri Hassan Diab telah berjanji akan memburu dan membuat pihak yang bertanggung jawab 'membayar' atas kejadian ini.

Dinas Keamanan Nasional Lebanon mengatakan bahwa mereka yang bertanggung jawab akan dijatuhi hukuman maksimum yang bisa diberikan.

Sumber: RMOL
Editor: Dardani

evitel hotel
Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© Copyright 2020 batamtoday.com All Right Reserved
powered by: 2digit