logo batamtoday
Senin, 12 April 2021
PKP


ESAI AKHIR ZAMAN MUCHID ALBINTANI
UFO Itu Malaikat atau Jin?
Jumat, 19-02-2021 | 15:52 WIB | Penulis: DR Muchid Albintani
 
DR Muchid Albintani. (Foto: Ist)  

Oleh DR Muchid Albintani

ESAI ini mendalilkan bahwa Unidentified Flying Object (UFO) adalah bagian dari keberadaan makhluk yang disebut dengan Malaikat dan atau Jin. Yang dimaksud dengan UFO di sini adalah yang mahfum dinilai sebagai makhluk yang berasal dari luar angkasa (baca: Alien).

Makhluk "luar angkasa" adalah bagian dari fenomena keberadaan Malaikat dan atau Jin. Keberadaanya akan lebih logis, berbanding sebagai "makhluk lain" dari luar angkasa atau yang selalu disebut Alien, selain Malaikat dan Jian. Apakah keberadaan Alien bagian dari desain besar tersebut?

PKP

Awal mulanya diyakini bahwa keberadaan UFO diskenariokan sebagai bagian dari upaya makar [by design] atau tipu daya, akhirnya berubah menjadi kecelakaan [by accident]. Lakon diskenariokan yang berakhir kecelakaan, tanpa desain dalam tatanan kehidupan manusia beriman menyebutnya dengan istilah "tak teridentifikasi".

Oleh karena akibat dari upaya tipu daya yang pernah, atau sedang dilakukan berasaskan desain besar [grand design]. Lucu dan anehnya, desain besarnya sampai saat ini tidak-belum teridentfikasi. Yang justru mengemuka kajin-kajian dalam level x-files yang sudah di-hollywood-kan?

Dalam upaya tipu daya itulah, terdapat adagium yang belum mashur dan perlu untuk terus dipopulerkan bahwa, 'Iman mustahil bertentangan dengan pengetahuan. Namun pengetahuanlah yang berusaha mengingkari keimanan'.

Sains [pengetahuan] sampai saat ini belum dapat mengidentifikasinya, namun pendekatan keimanan amat sangat dapat membantu memahami fenomena keberadaannya. Kata ganti untuk 'nya' inilah yang disebut dengan UFO (objek terbang yang tidak-belum dapat teridentifikasi).

BACA JUGA: Teori Syirik

Adagium Arif nan-bijak tersebut mengispirasi sekaligus menginisiasi hubungan kontekstual antara UFO (sebagai makhluk di luar manusia, Alien?) dan iman. Ikhwal akhir zaman hubungan ini dapat menjastfikasi ketakberdayaan sains [pengetahun] menghadapi fenomena UFO.

Objek yang tak dapat diidentifikasi ini memunculkan berbagai kemuskilan serta kejanggalan yang dalam prinsip keimanan dapat diasosiasikan dengan "kebahlulan pengetahuan". Sikap ini seolah-olah tidak berhubungan antara sains [pengetahuan], dengan iman [ke-iman-an].

Bersandar pada hubungan tersebut [pengetahuan manusia terkait keimanan], esai akhir zaman berupaya mengulas-kilas hubungan UFO dan makar (tipu daya) yang bersandar pada variabel iman.

Dalam konteks pengetahuan yang tak dapat membuka tabir, "semua yang hidup [bernyawa] pasti mati", termasuk "Alien". Kebahlulan yang tak dapat mengidentifikasi UFO, membuktikan jika iman berkorelasi positif [mempunyai hubungan signifikan] dengan pengetahuan (sains).

Dari sini korelasi tersebut dapat dijelaskan secara akademis, jika hubungan antara UFO dengan keimanan dapat diteorikan bersandar analogi sederhana. Sebagai studi awal, paling tidak rujukan sejarah qurani memberikan referensi bijaksana.

Kisah Israk Mikraj, diangkatnya Nabi Isa "ke langit", keberadaan Nabi Khaidir, di luar yang disebut dengan istilah mukjizat adalah menyoal hubungan ketakberdayaan pengetahuan memahami fenomena keimanan.

Sejauh ini kebaradaan UFO dalam konteks akhir zaman merepresentasikan prilaku yang manyatu [terintegrasi] antara kesombongan manusia [yang dipertontonkan manusia dalam men-tuhan-kan teknologi luar angkasa-perang bintang], kesombongan ilmuwan (baca: barat) dan ketakberdayaan aqal terhadap kodrat ilahiah nurani kebenaran penciptaan alam semesta yang sudah jelas melalui sumber-sumber yang qurani (Islamis).

Sederhannya, simultansi kesombongan plus keangkuhan dianologikan [sebagai perumpamaan] oleh jutaan manusia dalam kebiasaannya mengkonsumsi khamar [minuman keras memabukan].

Perumpaaan adalah realitas ironi, manakala pengetahuan (sains), jangankan tentang luar angkasa (bulan), sain (ilmuwan barat) tak sanggup menunjukan [menuntun] jika para produser, penjual dan peminum khamar adalah keliru dalam konteks pengetahuan dampak buruk dari khamar.

Sementara cara pandang qurani secara analogis-akademis dengan mudah dapat mengidentifikasinya. Dengan arif-bijak referensi qurani menyebutkan dengan tegas jika meminum khamar [jutaan atau bahkan miliaran manusia peminum] adalah termasuk perbuatan Syaitan.

Pertanyaanya: apakah Syaitan dapat dilihat? Secara teori, samahalnya dengan istilah Alien, pendekatan qurani (orang beriman) dengan jelas dapat mengidentifikasi wujud dan sosok Syaitan.

Menganalogikan keberadaan sosok Syaitan melalui tabiat meminum khamar inilah esensi penting perlunya mengindentifikasi ihwal argumentasi bahwa UFO sebagai Malaikat dan atau Jin. Pengidentifikasian ini minimal menunjukan tiga hal utama sebagai pelajaran bagi orang beriman.

(1). Memperkokoh keberadaan Malaikat dan Jin. Mengidentifikasi keberadaan UFO yang selalu diasosiasikan dengan makhluk luar angkasa (Alien) yang tidak-belum teridentifikasi dengan menyandingkan kebaradaan Malaikat dan atau Jin lebih logis serta minghindarkan syirik. Makhluk luar angkasa yang ada hanya baru sebatas imajenasi yang wujudnya tergantung dari penulis cerita fiksi.

Berbagai ragam wujud yang digambarkan umumnya dalam film-film itu dengan mata besar, kepala lebar, kaki kurus sosok yang mengerikan, dan lainnya hanyalah ilusi imajenasi para pengarang atau penulis. Begitu pula wujud dari Malaikat dan Jin. Hanya saja, sumber qurani memberikan informasi terkait dengan Malaikat dan Jin, sementara tentang Alien?

(2). Mendorong cara berpikiir baru tentang keberadaan UFO. Cara baru berpikir tentang keberadaan UFO dapat menjadi intropeksi diri. Ini khusunya terkait akan kemampuan atau keterbatasan pengetahuan manusia (para ilmuwan barat) tentang luar angkasa. Misalnya, peninjauan kembali (mempertanyakaan secara kritis): apakah benar manusia pernah mendarat (menginjakkan kaki) ke bulan?

Pertanyaan yang bermanfaat diajukan adalah: Apakah pendaratan ke bulan hanya sebagai perang psikologi intelijen terkait kemampuan teknologi luar angkasa sebuah negara adidaya? Berbagai kemuskilan temuan hasil pendaratan ke bulan yang masih misterius dapat dicermat-telusuri melalui jejak digital. Silakan ditelusuri.

(3). Eksprimentasi keberadaan Malaikat dan Jin. Malaikat sebagai hamba Allah yang konsisten setia jelas keberadaanya dalam sumber qurani. Rukun Iman kedua adalah percaya kepada Malaikat.

Sementara Jin (di antaranya Iblis atau nama lainnya Azazil) adalah makhluk penguji yang setia bertugas "menjerumuskan manusia ke dalam neraka", kecuali mereka (orang-orang) yang beriman. Walaupun tidak wajib mengimani Jin, tetapi sumber-sumber qurani tegas menjelaskan keberadaannya.

Oleh karena itu, berbanding mengeksprimentasi kebaradaan Alien, lebih logis Malaikat dan atau Jin. Upaya eksprimentasi dilakukan justru untuk memperkokoh keimaman, bukan sebaliknya. Selama ini tidak dapat dibantah tradisi di kebanyakan masyarakat dunia ikut yang selalu mengikuti langkah-langkah Jin (Iblis atau Azazil) yang dapat terjerumus ke lembah syirik.

Di antara yang populer dan sudah banyak ditulis tentu saja para pengikut Lucifer sebagai penyembah Iblis. Perjanjian dengan Iblis ini pula dinilai sukses serta dapat menjamin "keberhasilan khususnya pencapaian raihan materi dan kekuasaan".

Kalau wujud atau pun sosok Syaitan saja bisa "dibuktikan". Lalu, dapatkah pengetahuan atau sains membuktikan keberadaan Malaikat dan atau Jin?

Wallahu'alam bissawab. ***

Muchid Albintani adalah Associate Professor pada Program Studi Magister Ilmu Politik, Program Pascasarjana, FISIP, Universitas Riau, Pekanbaru.

Evitel
Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© Copyright 2021 batamtoday.com All Right Reserved
powered by: 2digit