logo batamtoday
Selasa, 18 Juni 2019
Banner-PKP


PKB Bedah dan Launching Biografi Muhaimin Iskandar 'ADEMPOL'
Senin, 15-04-2019 | 15:40 WIB | Penulis: Irawan
 
Bedah dan launching buku Biografi kehidupan agama, demokrasi dan politik (ADEMPOL) Ketua Umum DPP PKB A Muhaimin Iskanda  

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Sebuah buku yang menceritakan perjalanan (Biografi) kehidupan agama, demokrasi dan politik (ADEMPOL) Ketua Umum DPP PKB yang juga Wakil Ketua MPR A Muhaimin Iskandar dibedah dan dilaunching di Fraksi PKB DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (15/4/2019).

Sebagai narasumber Hadir Ketua PBNU Prof Dr Ma'shum Mahfud dan Prof Dr Lili Romli dari LIPI, Muhaimin Iskandar dan penulis buku Lukmanul Khakim.

Lukman menceritakan, semasa kecil Muahaimin Iskandar (Cak Imin) hidup di lingkungan Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur yang diasuh oleh pendiri NU KH Bisri Syansuri.

Karena itu, tak heran jika akrab dengan istilah-istilah pesantren saat menjadi aktifvis Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia (PMII) di UGM Yogyakarta, hingga memimpin PKB, menjadi Menakertrans RI, Wakil Ketua MPR RI, dan jabatan spirititual sebagai Panglima Santri.

"Panglima Santri tentu sangat berat, karena membawahi 28.000 (dua puluh delapan ribu) pesantren di bawah naungan NU," kata Lukmanul.

Cak Imin sendiri mengaku terjun dunia politik karena diajak oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan aktif di Forum Demokrasi (FORDEM) bentukan Gus Dur bersama kalangan intelektual di Jakarta. Selanjutnya, pasca reformasi masuk Tim 9 dan mendirikan PKB.

"Padahal sejak menjadi aktivis di kampus, saya anti partai politik Orde Baru. Tapi, ternyata partai politik itu tergantung orangnya. Kalau orangnya baik, maka akan baik," kata Muhaimin.

Padahal, kata Cak Imin, dirinya tidak pernah bercita-cita menjadi politisi, tapi cita-citanya menjadi penulis. Namun dalam perjalanannya makin kurang bahkan tak lagi memiliki banyak waktu untuk membaca. Sementara membaca itu menurut Cak Imin, sebagai modal dasar agar menjadi penulis yang baik dan berkualitas.

"Jadi, bersyukurlah bagi sahabat-sahabat yang masih memiliki banyak waktu untuk membaca," ungkapnya.

Menurut Muhaimin, keluarga besar KH Bisri Syamsuri sendiri merasa kehilangan saat menjadi politisi, karena tidak mengajar di pesantren seperti dikehendak keluarga. Hal ini juga pernah terjadi ketika KH Bisri Syamsuri menjadi Anggota DPR GR, dan pesantren merasa kehilangan saat itu.

"Sebab, saat itu beliau tak lagi bisa aktif mengajar kitab, ceramah, dan meninggalkan jamaah. Itulah pahitnya berpolitik bagi santri, dan saya saat ini hanya melanjutkan politik keluarga," pungkas Cak Imin.

Editor: Surya

evitel hotel
Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© Copyright 2019 batamtoday.com All Right Reserved
powered by: 2digit