logo batamtoday
Rabu, 17 Oktober 2018
Cluster-Botania-Garden


IMF Puji Kondisi Fundamental Ekonomi RI di Tengah Pelemahan Rupiah
Kamis, 11-10-2018 | 13:28 WIB | Penulis: Redaksi
 
Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde (AFP PHOTO / ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)  

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memberi pujian kepada pemerintah Indonesia atas kondisi fundamental ekonomi Tanah Air saat ini. Ekonomi Indonesia dianggap telah mengalami banyak perbaikan sehingga memiliki ketahanan terhadap tekanan ekonomi global, meski nilai tukar rupiah terus melemah.

Hal ini disampaikan Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde di salah satu forum diskusi dalam rangkaian acara pertemuan tahunan para negara anggota IMF-World Bank (IMF-WB) 2018 di Nusa Dua, Bali.

Menurut Lagarde, kondisi ekonomi Indonesia positif karena pemerintah berhasil membuat pertumbuhan secara bertahap dari tahun ke tahun. Sedangkan inflasi, cukup terkontrol rendah. Begitu pula dengan tingkat kemiskinan yang konsisten menurun.

Lebih lanjut, Lagarde juga menilai bahwa kondisi sektor keuangan Indonesia tetap baik. Hal ini tercermin dari kondisi perbankan hingga langkah restrukturisasi yang kerap dilakukan.

IMF juga menilai tingkat penggunaan utang Indonesia masih cukup baik dan tidak mengkhawatirkan.

"Ini adalah rekam jejak yang sangat baik. Kami memberikan apresiasi untuk kebijakan dan kedisiplinan yang baik, serta keinginan untuk mendorong ekonomi ini," ujar Lagarde di salah satu forum dari rangkaian acara AM IMF-WB 2018, Kamis (11/10/2018).

Lagarde bahkan menilai ekonomi Indonesia tetap baik, meski nilai tukar rupiah tengah melemah atau terdepresiasi. Kondisi pelemahan rupiah sudah terjadi sejak awal tahun ini.

"Nilai tukar memang terdepresiasi, tapi begitu juga dengan mata uang lainnya, seperti Australia, Selandia Baru, mereka dengan kisaran yang serupa," ucapnya.

Meski begitu, IMF tetap 'mewanti-wanti' Indonesia karena kondisi ekonomi global masih penuh ketidakpastian. Hal ini karena ada normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) dan kawasan Eropa dalam waktu dekat.

"Hasilnya, akan memunculkan capital outflow (arus modal keluar) di beberapa negara dan emerging market (negara berkembang)," katanya.

Selain itu, ada juga ketidakpastian dari perselisihan hubungan perdagangan yang beroperasi saat ini. Perselisihan ini, katanya, akan memberi pengaruh jangka pendek pada ekonomi.

Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai semester I 2018 sebesar 5,17 persen dari target 5,3 persen pada akhir tahun ini. Lalu, inflasi sebesar 2,88 persen secara tahunan pada September 2018 dari target 3,5 persen pada akhir tahun.

Kemudian, tingkat kemiskinan per Maret 2018 berada di level 9,82 persen atau setara 25,95 juta dari jumlah populasi masyarakat Indonesia. Sementara nilai tukar rupiah di perdagangan pasar spot siang ini berada di posisi Rp15.265 per dolar AS atau melemah 12,62 persen dari posisi awal tahun.

Sumber: CNN Indonesia
Editor: Yudha

evitel hotel
Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© Copyright 2016 batamtoday.com All Right Reserved
powered by: 2digit