logo batamtoday
Kamis, 18 Oktober 2018
Cluster-Botania-Garden


Bijak Menyikapi Musibah Kapal Tenggelam
Senin, 09-07-2018 | 11:04 WIB | Penulis: Redaksi
 
Kapal tenggelam. (Foto: Ist)  

Oleh Rivka Mayangsari

INDONESIA saat ini tengah berduka karena belum lama ini terjadi musibah tenggelamnya kapal feri pada 3 Juli 2018 di Selayar,Sulsel. Kapal ini hendak berlayar dari Pelabuhan Bira ke pelabuhan Pamatata. Namun, terjadi masalah pada lambung kapal sehingga mengakibatkan tenggelamnya kapal Feri tersebut.

Kapal Motor Penumpang (KMP) Lestari Maju ini pada pukul 10.00 WITA berangkat dari Pelabuhan Bira kabupaten Bukukumba untuk menuju Pelabuhan Pamatata kabupaten Kepulauan Selayar. Namun, pada pukul 13.40 terjadi masalah yakni air mulai masuk ke dek bawah kapal.

Di saat masih berada di perairan, salah seorang penumpang kapal bernama Onde sempat mengabarkan berita mengenai kapal yang mulai digenangi air akibat kebocoran via whatsapp kepada keluarganya. “Minta doanya dek. ombak semakin tinggi tinggal di atas di tempat kapten yang tidak diambil air.” Begitu tulisnya di saat peristiwa itu berlangsung. Pesan itu dikirim pada pukul 15.22 Wita, kemudian setelah itu dirinya tidak bisa dihubungi kembali.

Musibah kapal tenggelam juga menyisakan duka mendalam bagi Muhlis, ia kehilangan istri, anak, dan calon anak yang masih dalam kandungan istrinya yang tengah hamil 5 bulan. Istrinya yang bernama Rini itu masuk ke dalam daftar korban meninggal. Sebelumnya Rini berbagi pelampung dengan anaknya yang berusia 2 tahun. Jenazah anak berusia 2 tahun itu ditemukan masih dengan menggunakan pelampung pada pukul 16.00 Wita. Sementara sang ibu ditemukan di tempat terpisah tanpa pelampung pada pukul 21.00 Wita.

Sebelum peristiwa tragis itu terjadi, sebelumnya Muhlis sempat menghubungi istrinya dan berkomunikasi via telepon. Namun, adanya peristiwa itu sempat membuatnya tidak bisa menghubungi kembali. Ia pun panik ketika mendapatkan berita beberapa penumpang meninggal dunia.

Saat ini, Tim SAR masih terus melakukan pencarian terhadap korban penumpang kapal Mesin Lestari Maju yang belum ditemukan. Bukan hanya mengangkut orang, kapal itu juga memuat mobil. Diantara mobil tersebut terdapat uang tunai sebesar 30 Miliar Rupiah milik Bank Indonesia yang direncanakan akan digunakan untuk membayar gaji ke-13 PNS Kabupaten Selayar.

Sebelumnya sempat dikabarkan bahwa uang tersebut tenggelam bersama kapal Feri. Namun, kabar terbaru menyatakan uang sebesar 30 Miliar itu berhasil ditemukan dan diamankan.

Mengenai hal tersebut, Syarif selaku sekretaris direktur utama Bank Sulsebar mengatakan uang tersebut berhasil dievakuasi dari dalam air dan diamankan dalam keadan utuh tanpa kerusakan. Uang itu berhasil ditemukan pada pukul 23.00 Wita. Uang masih tetap utuh terbungkus plastik dan karung di dalam mobil. Setelah berhasil diamankan, paginya uang tersebut langsung disalurkan untuk membayar gaji PNS ke-13 Kabupaten Selayar.

Sebelum KM Lestari Maju, telah lebih dulu tenggelam kapal Mesin Sinar Bangun di perairan Danau Toba. Kapal itu tenggelam di kedalaman 450 meter pada 18 Juni 2018. Tim Basarnas telah berusaha untuk melakukan pencarian korban. Namun, 16 hari kemudian, pada Selasa 3 Juli 2018, pemerintah memutuskan untuk memberhentikan pencarian korban dikarenakan terbatasnya alat dan lokasi tenggelamnya kapal tidak bisa dijangkau oleh manusia. Pada 5 Juli Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi beserta perwakilan keluarga korban memberikan penghormatan terakhir berupa taburan bunga di perairan Danau Toba.

Meski banyak wajah-wajah yang sedang berduka akibat kejadian itu, namun keluarga korban mengaku telah ikhlas menerima kenyataan tersebut. Namun, warga berharap adanya pembenahan alat transportasi air terutama di wilayah Danau Toba sehingga kejadian ini tidak terulang kembali.

Setelah kejadian kapal tenggelam tersebut, memang dibentuk tim ad hoc untuk meningkatkan keselamatan dalam pelayaran. Tim itu mulai bertugas pada 25 juni sampai 25 Juli mendatang. Berdasarkan data dari Tim tersebut, menyatakan dari 215 kapal yang beroperasi, sudah dicek 154 kapal dan hasilnya seluruhnya bermasalah.

Masalah itu dari mulai yang ringan seperi kurangnya kelengkapan dokumen hingga berat seperti kurang tersedia standart keamanan bagi penumpang. Seperti tidak ada alat pemadam api ringan, instalasi listrik masih berantakan, dan lain-lain.

Selain pada bagian kapal, yang perlu dibenahi juga adalah bagian dermaga. Perlu adanya pos informasi, perbanyak jumlah petugas pos agar penumpang terlayani dengan baik, loket tiket juga belum ada di beberapa dermaga, pelu perbaikan sistem informasi sehingga masalah yang terjadi di kapal dapat langsung diketahui pihak dermaga dan bantuan pun bisa cepat dilakukan.

Mengenai hal tersebut, Menteri Perhubungan Budi Karya mengatakan pemerintah akan melakukan perbaikan terhadap sistem pelayaran di wilayah Danau Toba. Tentunya kejadian kemarin sangat disesalkan dan berharap tidak terulang kembali. Hal ini menjadi sebuah duka mendalam bagi transportasi air di Indonesia.

Memang dari pihak pemerintah dan sebagian rakyat Indonesia ada perbedaan pendapat. Ada yang setuju dengan keputusan pemerintah menyatakan pemberhentian pengangkatan kapal dan penumpang yang tenggelam di kedalaman 450 meter tersebut. Di sisi lain ada yang bersikeras meminta pemerintah melakukan segala cara agar jenazah korban KM Sinar Bangun dapat diangkat ke permukaan dan dikebumikan secara layak.

Sebenarnya ada berbagai pertimbangan terkait keputusan pemerintah tersebut. Sejauh yang kita tahu pemerintah dan basarnas sudah berhari-hari mengupayakan pencarian korban kapal tenggelam Sinar Bangun. Namun, semakin lama jenazah tersebut berada di air kondisinya pun mungkin akan berbeda, terlebih ketika harus diangkat dari kedalaman air ratusan meter. Tidak memungkinkan untuk dapat diangkat secara utuh. Untuk menjaga perasaan keluarga korban, akhirnya pemberhentian pencarian tersebut menjadi keputusan pemerintah.

Sebagai lambang kejadian nahas itu dan untuk mengenang tenggelamnya kapal mesin rencananya akan dibuat monumen di wilayah Danau Toba. Peletakan batu pertama akan dihadiri Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan, Tim Sar Gabungan, tokoh masyarakat, serta keluarga korban. Nama-nama korban tragedi tersebut akan ditulis. Ini bukan hanya duka bagi keluarga korban, tapi juga duka seluruh rakyat Indonesia.

Meski pemberhentian pencarian jenazah korban penumpang KM Sinar Bangun dihentikan, namun Tim SAR tetap berjaga-jaga di wilayah Danau Toba agar bisa cepat tanggap ketika ada jenazah yang muncul ke permukaan.

Musibah ini baiknya tidak dijadikan untuk saling menyalahkan antar pihak. Tidak dijadikan kambing hitam atas sesuatu yang berunsur politik. Ini adalah tragedi yang tidak disangka. Lebih baik dijadikan pelajaran untuk membenahi alat transportasi Indonesia agar semakin baik.

Tak hanya itu, tapi faktor cuaca juga perlu diperhitungkan. Untuk penumpang yang akan bepergian baik menggunakan alat transportasi darat, laut, dan udara. Perlu melihat kondisi alam. Ketika cuaca sedang buruk, sebaiknya urungkan niat untuk bepergian. Terutama jika menaiki transportasi laut dan udara. Faktor cuaca sangat berpengaruh.

Jadikan musibah ini sebagai bahan instropeksi dari masing-masing pihak. Tak perlu menunjuk siapa yang paling bertanggung jawab atas tragedi ini karena semuanya sudah terjadi. Yang perlu kita lakukan adalah memperbaiki kesalahan lalu agar tidak terulang kembali. *

Penulis adalah Mahasiswi Universitas Lancang Kuning Pekanbaru

evitel hotel
Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© Copyright 2016 batamtoday.com All Right Reserved
powered by: 2digit