logo batamtoday
Selasa, 23 Oktober 2018
Cluster-Botania-Garden


Butuh Rp1.200 Triliun untuk Rekonstruksi Irak
Selasa, 13-02-2018 | 09:26 WIB | Penulis: Redaksi
 
Kerusakan akibat perang di Mosul, Irak utara (AFP)  

BATAMTODAY.COM, Kuwait City - Kuwait pada Senin (12/2/2018) membuka pekan konferensi yang bertujuan mencari bantuan untuk membangun kembali Irak yang hancur akibat serangan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

VOA melaporkan, Irak diperkirakan membutuhkan dana sekitar 88,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp1.200 triliun.

Sementara itu secara terpisah, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson diyakini akan mengumumkan bantuan lebih dari 3 miliar dollar AS atau Rp40,9 triliun.

Namun, masih banyak uang yang dibutuhkan untuk membangun Irak. Sebelumnya, ISIS berhasil merebut kota terbesar kedua di Irak, Mosul, dan sebuah wilayah yang luas pada Juni 2014.

"Kami telah menyelesaikan satu pertempuran, tapi sekarang kami menghadapi perang untuk rekonstruksi," kata Mustafa al-Hiti, kepada pendanaan rekontruksi Irak untuk daerah yang terkena dampak operasi teroris.

Wilayah yang paling parah terkena adalah Mosul. Kendati pasukan koalisi pimpinna AS dapat memukul mundur ISIS, namun serangan udara dan bom mobil menghancurkan rumah dan bangunan pemerintah.

Dari kebutuhan dana tersebut, pejabat Irak memperkirakan sekitar 17 miliar dollar AS atau Rp231,9 triliun bakal dialokasikan untuk pembangunan rumah warga.

PBB mengestimasi 40.000 rumah perlu dibangun kembali di Mosul.

"Sebagian besar kerusakan terjadi di Mosul barat. Wilayah itu melewati salah satu pertempuran terburuk dan paling sengit dalam sejarah," kata Nofal Al-Akoub, gubernur provinsi Nineveh, Irak.

Al-Akoub megatakan butuh 42 miliar dollar AS atau Rp572,9 triliun untuk membangun provinsinya.

Perang melawan ISIS telah mengungsikan lebih dari 5 juta orang. Baru sekitar setengahnya kembali ke kampung halaman mereka di Irak.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Senin (12/2/108) berkicau di Twitter mengenai penghabisan dana di Timur Tengah menurutnya merupakan tindakan bodoh.

Miliaran dollar telah dikucurkan ke Irak, setelah invasi pimpinan AS pada 2003 berhasil menggulingkan diktator Saddam Hussein.

Sementara AS telah menghabiskan lebih dari 60 miliar dollar AS atau Rp818 triliun selama 9 tahun, untuk Irak. Sekitar 25 miliar dollar AS atau Rp314 triliun masuk ke pendanaan militer Irak.

Auditor pemerintah AS juga menemukan pemborosan dan korupsi, yang memicu kecurigaan politisi Barat seperti Trump sehingga ingin mengurangi bantuan luar negeri dari negaranya.

Sumber: VOA
Editor: Udin

evitel hotel
Berita lainnya :
 
 

facebook   twitter   rss   google plus
:: Versi Desktop ::
© Copyright 2016 batamtoday.com All Right Reserved
powered by: 2digit